Selamat tahun baru 2007 ?
aprian - January 1st, 2007
Selamat sore!
Gue baru bangun nih. Bagaimana pesta tahun baru-nya tadi malam?. Rame, seru, gila, nendang atau biasa aja?.
Gue … hmm, cuma main games Dotta di sebuah games center di jalan Diponogoro sama temen gue sampai jam 1/2 6 pagi. Kayakna kemarin lebih sibuk mikirin gimana lucifer, hero gue, bisa punya attack yang lebih kuat dan bisa ngeluarin magic buat ngebunuh hero musuh lebih cepat. Lebih pusing mikirin gimana markas gue di serang terus menerus dan pertahanan gue udah mulai jebol daripada sibuk berhitung mundur dan meniup terompet untuk nunggu pergantian tahun.
Basi?
Gak juga sih. Secara gue akhir-akhir ini … eh, bukan akhir-akhir ini, 2 bulan belakangan ini sedang mengalami masalah gangguan hati dan kram otak makanya mood buat pesta-pesta, hura-hura untuk tahun baru jadi gak masuk dalam daftar must yang harus gue lakukan. Bikin wishlist sama bikin resolusi kayak biasanya aja nggak. Bener-bener nggak kepikiran sama sekali.
“Oi..sehat fisik & hati dul?”, SMS dari si ayam yang bikin hp gue rame pagi-pagi tadi. Tapi sms-nya bikin gue jadi kepikiran juga.
Sehat fisik?
Kalau ukurannya gue masih hidup, ya gue masih posting di blog gue sampai saat ini. Tapi gak tahu juga kalo 2 jam lagi gue ketabrak truk manggis trus ketimpa tangga pula, he he he. Tapi kalo ukurannya berat badan, tekanan darah dan teman-teman statistik vitalitas tubuh itu, mungkin gue lagi sakit juga. Ini juga makan pagi gue jam 3 sore gini. Badan gue lagi gak konek ma otak gue ni. Sinyal-sinyal lapar gak kunjung dikirim dari otak. Kayakna lagi nge-hang.
Pernah gak loe ngerasa kebanyakan informasi yang datang dalam otak loe?. Kayak badai tsunami gitu. Sampai loe harus kewalahan sendiri untuk nerima, nyerap, memilah mana yang penting, mana yang sampah, mana yang harus dipikirkan, mana yang harus dilupakan, mana yang harus diingat. Dan pada puncaknya loe ngerasa kepala loe berasap dan loe pengen neken ctrl-alt-del buat ngereset biar otak loe mulai kerja lagi dari awal tanpa ngalamin badai informasi kayak gini.
Trus hati?
Kayakna pertanyaan ini harusna mang dijadiin satu. Menurut gue sih Hati dan otak itu satu paket. Hati riang otak normal dan hati sedih otak gila. Karena hati riang otak gak perlu bekerja keras untuk menstabilkan hati. Coba hati sedih, otak bekerja keras supaya hati riang lagi kan. Jadi ada beban tambahan lagi buat si otak. Tapi kalo si hati gak diurusin supaya riang lagi, yang ada otak bekerja seperti robot, tanpa rasa. Dan itu artinya loe bukan lagi jadi manusia.
Bingung?
Tenang, gak usah panik. Gue yang nulis aja juga bingung gue nulis apaan ini. Buat gue, ini cuma pelarian buat otak gue yang lagi kram dan hati gue yang lagi kelabu. Isinya mah gak penting. mungkin iklan obat kuat yang ada di Pos Kota jadi lebih penting daripada ini.
Jadi?
Ya jadi inilah tahun baru gue… eh salah, inilah ucapan selamat tahun baru dari gue. Dan maaf, saya sedang tidak merayakan tahun baru kali ini. Mungkin tahun depan saja, doakan saya tidak tertabrak trus manggis ya? :)
Api
aprian - November 29th, 2006
Aku sudah lama sendiri di sini, di sudut lapangan berdebu disebuah desa. Dulu anak-anak kecil senang bermain disekitarku, tapi sejak aku dicurigai menjadi sarang para hantu dan setan dan anak-anak itu ditakut-takuti oleh ayah ibunya jika sedang nakal, aku menjadi sendiri disini. Penduduk kampung juga seperti membenciku tapi segan menebangku karena takut kalau para setan yang “bersarang” disini marah. Penduduk yang aneh.
Kalian pasti terkejut bagaimana sebuah pohon beringin bisa bicara. Tapi kalau boleh aku ungkap, sebenarnya kami para tanaman bisa bicara. Betul itu, aku tak bohong. Tapi mungkin kalian manusia butuh sesuatu untuk mendengarkan. Butuh hati yang tulus.
***
Sejak sedari 3 hari ini, seorang pemuda sering datang. Berperawakan Kurus, tinggi, dengan kulit yang kecoklatan dan seperti kurang terawat. Wajahnya kusut. Tatapannya lebih sering menerawang jauh. Kosong. Mungkin itu biasa, yang paling membuatku heran adalah letupan-letupan api amarahnya. Ini tak seperti biasa, cenderung berlebih. Kadang memancar panas yang kuat, kadang hilang begitu saja. Tapi lebih banyak memancar kuat.
Hari ini dia cuma duduk menyender pada tubuhku, api dalam tubuhnya juga hilang. Wajahna terlihat letih. Ia cuma memandang kejauhan, seperti mengharap sesuatu akan datang. Tangannya lebih sibuk melempar-lempar batu kecil yang ada disekitarnya. Kemarin-kemarin ia tidak begini, kadang ia memukulku hingga kelelahan dan jari-jarinya berdarah. Kadang ia hanya mondar mandir di depanku sembari menendang-nendang tanah. Kadang ia diam berlutut, dan membenamkan kepalanya. Bahkan sempat ia menggigil seperti kedinginan, menggenggam jemarinya erat seperti menahan rasa sakit dari dalam dirinya.
Tapi ia tak pernah bicara, berteriak bahkan berbisik sekalipun. Ia hanya diam.
Aku juga cuma bisa diam. Jika saja dia bisa mengerti apa yang kubicarakan, mungkin kita bisa…yaah, istilah manusia-nya….curhat.
“Kamu bisa mendengarku kan?” tanyanya lirih tanpa menatapku. “Awalnya aku pikir ini hanya perasaanku saja yang bicara. Tapi, akhir-akhir ini semakin terasa“. Aku cukup terkejut. Belum pernah ada yg bisa berbicara padaku. “Ya nak, aku mendengarmu“, sahutku.
Ia kembali diam.
“Kamu baik-baik saja?“. Rasanya pertanyaanku aneh, tapi aku juga bingung mau bertanya apa. Ia juga hanya diam, melempar sebuah batu kecil jauh-jauh. “Kalau aku jawab ya berarti aku bohong, tapi kalau aku jawab tidak, saat ini aku masih hidup. Menurutmu?“. Ternyata pertanyaan sependek itu butuh jawaban yang panjang dan lagi malah bertanya balik. Menyebalkan!.
“Kamu kenapa nak? Kenapa marah seperti itu?“.
Ia berdiri, berjalan memutariku, lalu berhenti dan berdiri membelakangiku menghadap matahari terbenam.
“Darimana kamu tahu?”
“Yah, nenek-nenek sariawan juga tahu kalau kamu lagi marah“.
Ia menatapku sekilas, tersenyum tipis.
“Kamu tahu rasanya dicampakkan?” tanyanya.
“Hmmm…mungkin pernah. Dulu anak-anak kecil banyak bermain disini. Menghibur untuk pohon beringin setua seperti diriku melihat anak-anak bermain dan tertawa. Tapi kemudian beredar kabar kalau aku adalah sarang hantu dan setan. Sejak saat itu mereka tak pernah bermain disini lagi. Aku merasa tercampakkan.”
“Kamu mengalaminya?” tanyaku.
Ia diam. Api dalam tubuhna membesar lagi. Wow!. Dan buatku itu artinya ya.
“Tak baik menyimpan amarah. Maafkanlah nak.”
“Maaf? Emang lebih gampang ngomong!. Kamu pikir setelah bicara maaf lalu semua bisa selesai dengan baik seakan-akan gak terjadi apa-apa? Bagaimana dengan perasaanku?. Bagaimana dengan lukaku?.”
Api ditubuhnya semakin membesar. Aku jadi bertanya-tanya siapa yang mencampakkannya sampai seperti ini? Dan bagaimana sampai amarahnya tak tertahan seperti ini.
“Lalu maumu apa nak kalau meminta maaf tidak menyelesaikan masalah?. Mungkin lukamu bukan karena tercampakkan, tapi mungkin ia menusuk tepat di egomu.”
Ia terdiam, menunduk dan menutup wajah dengan tangannya. Ia seperti menahan sesuatu yang amat sangat sakit. Api dalam tubuhnya masih menyala-nyala besar.
“Kamu bisa memilih untuk diam disini dan membiarkan api itu membakarmu. Atau kamu bangkit, menegakkan dagu dan menghadapi ketercampakkanmu itu. Dicampakkan bukan berarti kalah nak. Kalah hanya jika kamu diam dan membiarkan dirimu terbakar. Kamu boleh bersedih, tapi tak boleh larut“.
“Nak, Tuhan menganugerahkan manusia 3 hal. Keberanian, untuk menerima tantangan, menghadapi semua resikonya. Ketabahan, untuk tetap tegak berdiri ketika semua hal buruk datang mendera dan Kebijaksanaan untuk memilih apakah tetap berani mencoba tantangan atau berhenti dan tabah menerima hasil bahwa telah gagal untuk kemudian mencoba tantangan yang lain“.
Aku diam. Ia juga hanya diam.
“Bersikaplah bijak“.
Ia melepaskan tangan dari wajahnya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Bagus nak, biarkan mengalir. Itu akan membuatmu lebih kuat.
“Ah!, sok bijak!“, teriaknya.
Sinis sekali. Ia meninggalkanku pergi tanpa sekalipun menolehku. Walaupun ada nada marah disuaranya, tapi tak tampak api lagi di tubuhnya. Kuharap apa yang aku katakan membuatnya tersadar.
Manusia…manusia penuh dengan ego membuatnya jadi begitu rumit.
***
Esok hari. Ia hanya diam diujung lapangan itu. Wajah diamnya memandangku.
“Kamu mau kemana?” tanyaku.
Ia diam, menunduk dan menarik tas ranselnya. Lalu berbalik dan pergi. Masih ada letupan-letupan api kecil di tubuhnya.
“Pergilah nak, berjalanlah sejauh yang kamu bisa. Padamkan apimu sebelum ia membakarmu dan cari jawaban atas apa maumu“.
My Immortal
aprian - October 24th, 2006
I’m so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave I wish that you would just leave
Cause your presence still lingers here
And it won’t leave me alone
These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase
When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all of me
You used to captivate me by your resonating light
Now I’m bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away oh all the sanity in me
These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase
When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all of me
I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along
When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all, all of me
me
Evanescence – My Immortal
Tertawa
aprian - October 15th, 2006
Lima tahun yang lalu…
Dari tempat kost gue di Kiaracondong menuju ke kampus gue di daerah Daeyuhkolot, gue mau gak mau pasti ngelewatin Pasar Kiaracondong. Yang namanya pasar itu pasti bikin macet, gak beraturan dan rame. Butuh waktu 1/2 – 1 jam hanya untuk ngelewati jalan depan pasar ini yang cuma berjarak kurang lebih 300 meter…. *keluh*.
Pedagang yang berjualan sembarang, angkot yang ngetem seenaknya, tukang becak yang parkir sembarangan, orang lalu-lalang di jalan raya, plus beceknya pasar bikin suasana terlihat “chaos” disana. Gue sendiri juga heran kenapa orang-orang masih aja ramai belanja disana.
***
Siang itu gue lagi butek banget. Lagi banyak masalah, mulai dari masalah skripsi yang belum kelar, warnet, kerjaan sampai masalah hati. Ditambah lagi jalan lagi macet-macetnya depan pasar kiaracondong. Udah bukan macet lagi namanya, tapi kayak mobil parkir di jalan raya saking lamanya gak jalan-jalan.
Gue duduk di belakang dekat pintu keluar, wajah sayu memandang keluar ngelihat orang-orang dengan kesibukannya. Ada 2 orang yang menarik perhatian gue, tukang service jam, dan satu lagi tukang jualan kaset. Mereka terlihat pembicaraan serius. Gue gak gitu denger apa yang mereka omongin tapi dari wajah seriusnya kelihatan kalo itu…..serius. Suara-suara mereka ketutupan ma suara jedang-jedung dari si tukang penjual kaset. Si tukang service jam sesekali mendekatkan diri, mungkin supaya suaranya terdengar lebih jelas.
Dan kemudian…mereka tertawa. Memang tidak ada yang aneh dengan tertawa mereka. Mereka tertawa lepas, raut serius dimuka mereka hilang. Yang ada hanya kebahagiaan, mata berbinar dan tertawa lepas. Mereka tidak peduli orang yang lalu lalang, mereka hanya tertawa. Tertawa seperti kita menerima hadiah terindah dalam hidup kita, tertawa seperti tanpa beban dalam hidup. Hanya tertawa…dan tertawa
Tertawa mereka mengusikku, membuatku berpikir tentang diriku dan mereka. Bukan maksud merendahkan mereka, tapi bayangkan, berapa orang sehari akan menservice jam? Berapa orang sehari membeli kaset?. Belum lagi tempat mereka berjualan tidak representatif. Belum pungutan-pungutan liar. Belum lagi biaya makan dan hidup mereka. Bagaimana dengan keluarga mereka? Bagaimana mereka menafkahi hidup keluarganya?. Bagaimana juga mereka bersaing dengan tukang service jam dan tukang jualan kaset yang ada di sekitar. Dan ribuan bagaimana-bagaimana muncul di kepalaku. Dan kamu tahu…. mereka bisa tertawa?. Siang bolong yang panas, suasana macet yang menjengkelkan dan beban hidup yang berat, mereka tertawa.
Dan gue? gue masih punya orang tua yang memberi gua uang tiap bulannya. Gue masih kuliah di salah satu kampus yang cukup favorite dan punya masa depan, gue masih punya warnet tempat gue mulai belajar tentang IT dan mulai ngerti arti kata “punya usaha sendiri”. Gue masih makan yang enak, gue masih punya baju yang lumayan bagus, gue masih punya temen-temen, masih punya orang yang sayang sama gue. Gue masih dikasih kesempatan untuk hidup.
Tapi…. tapi kenapa gue ngerasa hidup gue susah banget dan ribuan masalah datang mendera gini?.
***
Cukup lama gue diem dan gue ngerasa bodoh banget. Kenapa dengan begitu banyak kelebihan yang diberikan kepada gue di banding mereka, mereka bisa tertawa lepas dan gue mutung kayak langit mau runtuh. Kayaknya persoalan-persoalan dan tantangan-tantangan hidup yang mereka hadapi jauh lebih kompleks daripada gue, tapi mereka bisa “pasrah” dan mereka bisa tertawa.
Entah kenapa setelah itu gue ngerasa lebih lega. Gue juga belum menemukan jawaban-jawaban dari masalah gue. Tapi perasaan gue lebih tenang dan pikiran gue lebih jernih. Gue ngerasa lebih “ringan”.
Setiap gue ngalamin masalah yang menurut gue “berat”, gue selalu ingat ketawa kedua orang itu. Itu bikin gue semangat lagi dan berpikir lebih jernih buat menyelesaiin masalah-masalah gue.
Gue percaya kalau tiap orang punya pertempuran-pertempurannya masing-masing. Bagaimana kita bersikap itu yang menentukan gimana hasil akhirnya.
Jadi…
“Tetap semangat.. dan tertawalah sebelum tertawa itu dilarang“
Bintang jatuh
aprian - October 2nd, 2006
Ehh.. tunggu. Mari duduk disini sebentar. Sedang tidak berburu-buru kan?
Hmm… apa kabar?. How’s life anyway?. Aku ya begini-begini saja. Sibuk dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain. Terkadang banyak pekerjaan tapi kurang penghasilan. Tapi hidupku masih tetap indah. Kuharap kamupun juga begitu. Maksudku, kuharap hidupmu juga indah.
Mengingat-ingat tahun yang telah lewat, aku jadi teringat ketika aku bertiga dengan teman-temanku duduk menunggu pagi di pantai sanur. Waktu itu memang hari raya Banyu Pinaruh, salah satu hari raya di Bali. Senang rasanya duduk di pasir yang lembut sambil mendengar debur ombak. Rasanya tenang sekali. Kami tiduran beralaskan koran, melihat langit malam bertabur bintang.
Kamu tahu, tiba-tiba ada bintang jatuh. Indah!. Walau hanya sekilas, tapi luar biasa indah. Ekornya cukup panjang dan berkilau, seperti kembang api yang sedang meluncur. Kemudian aku berteriak, “make a wish…make a wish“.
Dan aku langsung berteriak lagi “aku ingin ada 3 bintang jatuh lagi!!“. Karena kupikir dengan begitu aku bisa make a wish yang lain lagi. Sedikit curang memang.
Dan kamu tahu? Tiba-tiba 3 buah bintang jatuh benar-benar lewat. Kamu percaya itu? 3!!. Kami hanya terdiam. Aku tak tahu apakah orang-orang di sekitar kami juga menyadari itu. Waktu itu kami hanya diam dan menikmati keindahan bintang jatuh. Susah untuk bercerita bagaimana indahnya. Pekatnya malam dihiasi ribuan bintang, seberkas cahaya dengan ekor yang cukup panjang bergantian mewarnai langit dan diiringi debur ombak. Dan itu adalah lukisan malam terindah yang pernah aku lihat.
Kami lalu tertawa. Permintaan kami dikabulkan dan bergumam kenapa tadi tidak meminta yang lain ya?. Tapi rasanya 3 buah bintang jatuh juga merupakan hadiah yang tak kalah indahnya.
Kamu pasti bertanya-tanya apa moral of the story-kan ?. Hahaha, tak ada!!. Aku cuma ingin bercerita tentang bintang jatuh, tentang perasaaan indah di masa lalu. Aku hanya ingin berbagi rasa indah. Itu saja. Kamu merasakannya kan?.
Bosan ya?.
Maaf, aku bukan pencerita yang baik. Besok aku akan belajar bercerita yang baik agar kamu tidak bosan. Atau mungkin kamu punya cerita lain?. Ah maaf…maaf, kamu harus pergi ya. Sampai jumpa lagi ya, katakan pada teman-temanmu jika melihat bintang jatuh jangan lupa make a wish. Siapa tahu bisa terkabul seperti aku ini.
Jika bintang jatuh membuatku bahagia, maukah kamu menjadi bintang jatuhku?
Rindu
aprian - July 11th, 2006
Sambil nungguin lampu merah, iseng nengok ke kanan. Ada toko baju gitu. Dari yang keliatan sih biasa-biasa aja. Ada satu yg diboneka manekin. Warnanya pink. Lucu juga sih. Jadi kebayang, gimana ya kalo dia pake baju yang pink itu?. Style vintage, mirip dengan bajunya yang warna hitam.
Lampu hijau…
Lewat depan Bioskop 21 Wisata. Nonton disini murah, dulu sih cuma 5000perak, kalau sekarang 15000 hari biasa, dan 8000 kalo nomat. Soundnya, ya gitu dehhh. Tapi lumayanlah buat sekelas bioskop 21. Tempat duduk juga masih rapi. Masih enak juga kok. Hmm… terakhir nonton bareng dia itu sebulan yang lalu, nonton ice age2 . Bersama penonton-penonton cilik, kita berasa jadi pengasuh anak-anak. Tapi untung gak kayak kejadian waktu gue nonton spiderman sendirian. Disebelah gue 5 orang anak SD yang dengan polosnya bertanya..”om om, om suka spiderman juga ya?”. Oh yeahh om!!. Hmm…jadi pengen nonton bareng lagi.
Dekat rumah…
Warungnya sih kecil, jualannya ya tipat cantok, rujak dan es campur. Dulu beli rujak atau tipat 500 perak juga udah kenyang banget. Sekarang udah naik jadi 1500. Gak gitu mahal juga sih kalau ngeliat porsinya yang jumbo. Gue suka banget rujak kuah pindangnya. Dia juga suka. Tapi dia sukanya yang pedesnya nonjok dan pake gula merah. Kalo gue seh, pedes yang pas. Cabe cukup satu dan tanpa gula merah. Biar rasa kuah pindangnya masih murni. Kemarin pas dia datang gue lupa bawain rujak kesukaannya ini. Ntar tak bawain ah.
Rumah…
Gak tahu kenapa jadi kepikiran dia mulu?. Bahaya juga ni. Kalo kepikiran terus bisa tersalurkan sih gak papa. Tapi kepikiran trus musti nunggu bulan depan. Nah itu dia yang bikin susah. Jadi uring-uringan sendiri. Eh..eh jangan salah!. Tersalurkan jangan berkonotasi negatif ya. Bisa-bisa postingan gue dianggap porno lagi. Tersalurkan buat gue ya ketemu. Ya kan?
Ketemu?…Iya ketemu.
Minta dia nyobain baju pink dari toko yang deket lampu merah. Ngajak dia nonton di bioskop. Tapi kali ini nonton di 21 galeria aja. Lebih bagus. Terus bawain dia rujak kuah pindang yang pedes dan tambah gula merah.
Hmm…kamu kapan pulang? ;)