Teruntuk diriku di masa depan

aprian - April 28th, 2019

27 April 2019

Teruntuk diriku di masa depan,

Seharusnya tulisan ini aku kirimkan kemarin, hari dimana ketika kita menandainya sebagai hari kita mulai menghirup nafas di bumi. Tapi kamu pasti tahu aku, “kalo bisa ditunda, kenapa dikerjakan sekarang?”. Dan kejadian-kejadian seperti ini selalu saja terjadi. Menunda satu jam lalu waktu satu hari berlalu begitu saja. Aku berharap kamu tidak begitu sekarang.

Aku percaya ketika kamu membaca tulisan ini, kamu sudah menjalani perjalanan hidupmu dengan bahagia,  dikelilingi oleh keluarga, sahabat dan orang-orang yang mencintaimu sepenuh hati. Dan juga melukis hidup dengan menciptakan momen-momen yang penuh warna dan berharga.
Ingatlah bahwa perjalananku hingga menuju titik-mu sekarang, dimulai dari ketika aku menemukan diriku sendiri. Menemui sisi gelap diri yang selalu membayangi, lalu mencoba mengubah apa yang bisa diubah dan berdamai dengan apa yang tak bisa diubah.

Jadi kuingatkan sekarang, jangan pernah lupa siapa dirimu walau apapun yang terjadi dengan dunia. Tegakkan kepalamu, rendahkan hatimu dan tetaplah jadi orang baik. Pada akhirnya, kita diingat dengan bagaimana kita berbagi kebaikan untuk sekitar kita.

Tak usah tulisan ini kamu balas, belum ada mesin waktu toh? Tuliskan bukan untuk dirimu, tapi untuk setelahmu, agar  mereka menjalani hidup dengan kebaikan. 

Salam hangat dari Aku saat ini

0 Kata

Jiwa yang tertinggal

aprian - June 19th, 2017

Dear love,

ada kalanya ketika kamu pulang ke rumah yang terbawa hanyalah ragamu. Jiwamu sendiri entah tertinggal di mana. Mungkin di antara semak ilalang di pegunungan yang hijau, di antara karang-karang di tepi pantai yang biru, atau di antara hati seseorang yang kamu temui senja tadi.

Dimanapun itu, akhirnya akan selalu menyeret kita ke tempat itu untuk menemukan jiwa kita lagi.

1 Kata

Jaga diri

aprian - January 21st, 2017

Jaga diri kamu ya” katanya sambil tersenyum. Aku menyukai senyumnya yang lembut, seperti berteduh di pohon yang rindang di siang yang panas. “Iya” jawabku singkat sekaligus heran, karena ini seperti sebuah ucapan perpisahan. Ia tersenyum kecil seakan mengerti kegusaranku. “Tenang, aku gak kemana kok. Maksudku, aku tahu kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Tapi bukan seperti itu yang ku maksud“.

Ia diam sejenak, lalu menarik nafas panjang. “Jaga diri kamu agar kamu tidak melukai orang lain“. Aku hanya bisa diam. Kalimatnya menusukku telak. Perlahan ia memelukku. “Jangan lagi“.

1 Kata

Senang atau Sedih?

aprian - July 14th, 2016

Kamu tahu, kadang aku merasa sedih ketika melihat keadaan yang terjadi padaku sendiri. Tapi ketika aku melihat disekitarku, apa yang kualami tak seujung kuku dari hal buruk yang mereka alami. Aku jadi merasa tak sedih lagi.

Kadang aku merasa senang ketika melihat keadaan yang terjadi padaku sendiri. Tapi ketika aku melihat disekitarku, apa yang kualami tak seujung kuku dari hal baik yang mereka alami. Aku jadi merasa tak senang lagi.

Kadang aku melihat disekitarku, melihat hal buruk dan hal baik yang mereka alami dan aku menjadi tak tahu apakah aku harus merasa senang atau sedih dengan keadaanku. Karena itu lebih baik aku membuat segelas teh hangat menikmatinya dengan sepiring pisang goreng panas yang dibeli di warung di pojok jalan dan tak memikirkan apakah aku akan senang atau sedih.

1 Kata

Harapan

aprian - June 8th, 2016

Jadi seberapa jauh kita bisa meletakkan harapan kita?” tanyaku dengan wajah serius. Ia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Rambutnya yang hitam lurus berayun-ayun di telinganya tertiup angin. Angin juga membuat poninya menutupi wajah manisnya yang dibingkai kacamata. Ia menarik nafas, “Seberapa jauh kan tanyamu?”. Aku cuma mengangguk, menunggu jawabannya. “Sejauh kamu kuat menahan jatuh ketika rasa kecewa datang dengan harapan yang punah“. Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. “Berhentilah berharap. Ikhlaskan apapun hasilnya lanjutnya.

Sore itu di tepi pantai, aku belajar meluruhkan semua harapanku.

0 Kata