logika hati
aprian - January 26th, 2010
Aku gak ngerti, tapi aku suka. Mungkin karena aku pake hati, bukan logika.
Lampu Merah di Perempatan Jalan
aprian - January 9th, 2010
Tengah malam pukul 00.30.
Aku memacu motorku kencang. Jalanan yang tidak begitu ramai membuatku leluasa untuk melaju dengan cepat diantara malam yang semakin larut. Udara dingin menampar wajahku.
Aku mulai mengurangi kecepatan motorku dan berhenti tepat di garis lampu lalu lintas. Lampu warna merah menyala dengan terang, kontras dengan suasana temaram di jalan ini. Jalan ini adalah perempatan antara jalan Hasanudin dengan jalan Gunung Kawi. Jalan yang siang hari selalu padat dengan kendaraan bermotor karena di ujung Utara jalan Gunung Kawi ini adalah sebuah pasar.
Tanpa sadar aku melihat ke kanan dan tersenyum. Melihat sebuah toko yang membuat ingatkanku melayang tentang rasa rindu yang kupunya dulu.
Di sebelah kiriku seorang bapak-bapak tua duduk diatas motor tuanya dan berkonsentrasi dengan lampu merah. Di belakangku beberapa mobil terlihat sabar menunggu. Kendaraan mulai berdatangan dan dengan tenang menunggu di belakang garis dari lampu lalu lintas. Semua orang mengantri dan menunggu.
Lampu lalu-lintas ini masih berwarna merah, orang-orang masih sabar menunggu dan seperti terlihat asyik memandangi lampu merah itu. Aku merasa orang-orang seperti terhipnotis. Diam dan menunggu lampu berwarna hijau. Padahal kalau saja mereka mau, mereka bisa saja tidak mengindahkan lampu merah itu, melaju menerobosnya karena jalan yang bersimpangan sudah tidak ada kendaraan yang lewat dan polisi lalu lintas juga tidak ada.
Aku jadi bertanya-tanya tentang ini. Apakah mereka berhenti dan setia menunggu lampu lalu lintas itu menjadi hijau karena alam bawah sadar mereka “memerintahkan” untuk tidak menarik gas dan melajukan kendaraan mereka ataukah mereka berhenti dengan kesadaran bahwa lampu lalu lintas ini membantu mengatur mereka berkendaraan agar semuanya selamat sampai di tujuan?
Lalu pertanyaan lain muncul di kepalaku, apa gunanya aku tahu tentang itu? Aku sendiri tadinya berhenti karena melihat lampu merah dan reflek saja menginjak rem dan berhenti di garis lampu lalu lintas ini.
Setelah ku pikir, lebih baik hal-hal kecil seperti ini dikerjakan oleh alam bawah sadar. Sama seperti hal-hal kecil baik lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, meletakkan kembali barang pada tempatnya, menyikat gigi sebelum tidur atau bahkan menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Alam bawah sadar bertindak cepat dan tanpa kita sadari. Setidaknya dia tidak membuat kita berpikir apakah membuang sampah pada tempatnya akan menghasilkan pahala yang memberi surga dengan bidadari-bidadarinya. Tindakan kita menjadi tulus.
Lampu berubah hijau.
Aku menarik gas motorku kencang, membiarkan angin dingin menerpa wajahku. Kendaraan yang lain juga melakukan hal yang sama. Memacu kendaraannya untuk membawa mereka ke tempat yang mereka inginkan.
Pada akhirnya pertanyaanku tetaplah hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tapi yang penting ketika lampu merah semua mau berhenti di garis lampu lalu lintas dan setia menunggu lampu hijau datang bahkan ketika malam yang sepi sekalipun.
kamu sayang dia?
aprian - October 4th, 2009
“Kamu sayang dia?”
Pertanyaan itu tajam dan tanpa tedeng aling-aling.
“Iya” jawabku singkat dan memandangnya penuh tanya.
“Lalu, dia?”
“Mungkin” sahutku.
“Mungkin?” tanyanya lagi.
“Iya mungkin, aku juga tak tahu. Sepertinya iya, tapi naluriku bilang sepertinya tidak”
“Ya, jadi jelas kan apa yang harus kamu lakukan”
“Apa” tanyaku tak mengerti.
“Ya sederhana saja, buat dia sayang padamu“.
“Tapi sampai kapan berusaha? Kadang aku juga lelah seperti ini”
“Tergantung seberapa besar rasa sayang yang kamu punya. Jika kamu berhenti sekarang berarti cuma segitu besar rasa sayangmu padanya. Hanya kamu yang tahu jawabannya”
Aku diam. Ia benar.
“Jikapun kamu sudah berusaha dan kalian tidak bersama itu bukan salah siapa-siapa. Mungkin memang ia bukan untukmu. Setidaknya kamu sudah berjuang untuk rasa yang kamu punya. Kamu laki-laki, takdirmu untuk berjuang mengejar pilihanmu dan takdir wanita untuk menentukan pilihannya, mau apa tidak“.
Ia tersenyum, menepuk-nepuk pundakku pelan.
Aku tersenyum, persoalan jadi sederhana sekarang. Aku hanya perlu berusaha agar ia juga jatuh cinta padaku …
***
I never thought that i’m so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can’t be wrong
Don’t ever give up, just try try and try to get what you want
Cause love will find the way
~~ Endah n Rhesa – When You Love Someone ~~
Tahun ke 31 …
aprian - April 27th, 2009
“Happy birthday to you … happy birthday to you” …
Terdengar suara nyanyian adikku seperti sebuah koor di seberang sana dari HP-ku. Dia juga berulang-tahun bersamaan denganku, jadi mungkin dia sedang merayakannya bersama-sama dengan keluarga dan teman-temannya.
Kulihat HP dan beberapa sms sudah masuk dan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun juga. Pikirku, masih jam 3 pagi, nanti lebih siang saja aku balas. Kepalaku masih agak sakit dan badanku masih demam.
Aku hanya mengirimkan 2 sms, satu ke adikku yang berulang tahun tadi, Sekar, dan satu lagi ke Achill. Sebenarnya rasanya cukup aneh kalo ulang tahun bersamaan dan sama-sama teman yang sangat dekat yang bahkan seperti saudara sendiri. Seperti memiliki saudara kembar.
Aku sebenarnya ingin punya kata-kata indah yang kutulis untuk sekedar mengingatkan tentang hari ini, yang kata orang-orang adalah hari spesial. Tapi entah kenapa rasanya otak tak bisa diajak kompromi. Mungkin aku sudah kehilangan “rasa” atas hari ini, karena sejujurnya aku sudah tidak menikmati hari ini seperti tahun-tahun yang telah berlalu. Tapi sudahlah, mungkin saat ini cukup menulis apa yang ada di kepala, tidak harus yang indah dan puitis.
Daripada merasa sentimentil pagi ini, mungkin sebaiknya aku berdoa, mengucapkan syukur atas apa yang aku lewati selama 31 tahun ini, berterima kasih atas semua kebaikan dan pencerahan yang aku terima dan berpikir bagaimana cara membalas dan meneruskan semua hal-hal baik yang telah aku terima selama ini.
Selamat pagi dan selamat ulang tahun juga Achill dan Sekar ….
mengapa hidup?
aprian - March 22nd, 2009
Kamu ingat yang aku bilang?
Kamu akan belajar banyak, dan akan mengalami banyak hal buruk, lebih banyak dari orang lain.
Kamu tahu mengapa?, agar kamu tahu mengapa kamu hidup.
Jadi sampai saatnya tiba, jangan berhenti dengan alasan apapun.


