warna…..

aprian - October 13th, 2003

Dulu mungkin kita tak pernah tahu apa jadinya kita nanti. Kita hanya berusaha dan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dan tanpa kita sadar, kita sudah berada di titik ini.

Dulu juga mungkin kita tak pernah tahu siapa yang akan kita temui. Berteman, bersahabat dan bersaudara, itu saja yang kita lakukan. Dan tiap teman, sahabat dan saudara memberi warna dari kanvas putih yang kita punya.

Kamu yang dulu dan kamu yang sekarang pasti berbeda. Semakin banyak warna yang tertoreh dalam kanvasmu. Temanmu, keluargamu bahkan kamu sendiripun memberi warna-warna yang berbeda.

Kalau saja ada mesin waktu, aku akan berikan padamu, agar kamu bisa mengubah warna-warna yang tertoreh menjadi seperti warna yang kamu inginkan.

Tapi kini aku hanya bisa memberimu sebait doa agar warna-warna dalam kanvasmu tak menjadi hitam tanpa arti, tapi menjadi warna pelangi yang berharmonisasi

Selamat ulang tahun Fiona Frederique.

18 Kata

diam

aprian - October 13th, 2003

kalau saja diam adalah emas, mungkin aku sudah kaya sekarang..

6 Kata

seminggu yang sepi

aprian - October 8th, 2003

Tau gak seh gimana rasanya seminggu tanpa internet ?. Coba bayangkan loe internet udah 5 tahun, gak pernah bayar, tiap hari online. Bangun tidur liat internet, mo tidur liat internet, mo belajar liat internet, cari temen lewat internet, kerja lewat internet, pacaranpun juga lewat internet. Tiba-tiba jegreng satu minggu tanpa internet…hikz…rasanya jadi bego banget, jadi kayakna gak punya temen, terputus dengan dunia luar, gak bisa mantau berita lagi dan stock bokeppun berkurang (dik, kez, mohon sabar ya.. ^^). Pokokna TANPA INTERNET TU GAK NGENAKIN !!…TITIK !!

Mana udah gak liat internet, kerja kayak rodi ginih. Tiga hari ngider di lapangan berburu orang-orang dan empat hari sisanya bercumbu sama excel entry data yang najubilah edan banyaknya.

Sekarang ngabur bentar ke warnet dulu. Refreshing dikit, nyegerin otak. Mudah2an gak lupa caranya posting.. ^^. Persiapan buat besok bercumbu lagi sama excel. Eh eh tapi ada gunanya juga main-main ma excel terus, jadi jago sayah mainan excel. Ditanggung asik rasa ogut dah kalo gue mainin excel..hu hu hu ….

Yah..sampai disini akhir ceritanya. Sampai jumpa minggu depan lagi ya. Mohon didoakan agar internet di kantor saya cepat hidup, eh sekalian doakeun agar kantor saya lolos verifikasi KPU yaks. Biar gak rugi sayah kerja rodi seminggu inih.

16 Kata

Tolongg !!!………

aprian - September 30th, 2003

panas banget seh ?. Ini AC kok sepoi-sepoi gini niup anginnya ?

Sore itu di kantor, di minggu sore yang membosankan, gue ma temen gue berpanas-panas ria. Semuanya pada buka baju.

Tiba-tiba….

PRI !!…. KEBAKARAN !!!

Gue langsung lari keluar, melihat dari jendela. Ternyata kebakaran terjadi dirumah belakangan kantor. Tepat bersebelahan dengan ruangan tempat gue kerja.

Api sudah menyambar kemana-mana. Asap tebal membumbung tinggi. Teman-teman entah lari kemana. Gue sendiri ke kamar mandi, nyari ember. Tapi gue pikir ini gak cukup buat mademin api.

Gue inget kalo didepan kantor itu ada pos jaga pemadam kebakaran. Gue lari turun ke depan. Tapi di depan kantor ternyata sudah banyak orang. Petugas pemadam kebakaranpun sudah menggelar selangnya.

Gue lari kedalam lagi. Mastiin bahwa di ruanganku baik-baik saja. Dari jendela aku melihat orang-orang sibuk menggelar selangnya. Mulai menyemprotkan air.

Gue berlari keruanganku. Manggil office boy (OB), meminta bantuannya untuk mematikan komputer. Saat gue sibuk mematikan komputer, tiba-tiba listrik langsung padam. Aku pikir ada yang memadamkan. Gue kunci ruangan, takut ada orang yang memanfaatkan kesempatan untuk mencuri sesuatu.

Ada temen gue yg mulai menelp bos-bos kantor gue. Beberapa lain jagain ruangan agar aman. Barang-barang masih belum ada yang dievakuasi. Karena ternyata gue lihat api tidak menjalar kekantorku. Hanya menyambar-nyambar saja. Dan itu tepat bersebelahan dengan ruangan gue.

OB-OB kantor gue ternyata sibuk membantu petugas pemadam kebakaran. Teman-teman gue juga. Dari lantai 2 kantor mereka menyemprotkan airnya.

Rumah itu sendiri posisinya cukup aneh. Di depannya terletak rumah susun, di sebelah kiri dan belakangnya oleh kantorku dan disebelah kanan oleh rumah-rumah tukang kayu.

Api menjilat-jilat kemana-mana. Dalam 10 menit semua bagian rumah itu sudah terbakar. Asap mulai keluar dari celah-celah atap.

Gue ngga tahu ada berapa tepatnya mobil kebakaran. Yang jelas didepan kantorku cuma ada satu mobil. Dari rumah susun di lantai 2 dan 3 sendiri terlihat air disemprotkan. Untunglah mereka mempunyai keran hydran sendiri.

Air-air yang mereka semprotkan ternyata terhalang oleh atap. Beberapa orang melemparkan batu untuk menghancurkan atapnya.

Dari lantai 2 kantor gue, air yang berasal dari mobil pemadam kebakaran mulai disemprotkan. Satu selang itu dipegang oleh 5 orang dewasa.

TARIK-TARIK !!“. Mereka menarik slang airnya, tapi seperti tertahan sesuatu.

Dari jendela lantai 2 aku turun ke tangga lantai 1. Menarik selang itu sendirian. Sial tak ada yang membantuku. Selang air itu benar-benar berat. “WOII BANTUIN NARIKK !“. Beberapa orang turun membantuku. Menarik selang air agar lebih memanjang. Gue lihat ada batu yang menghalangi selang. Gue singkirin batunya, trus narik selang lagi. Mereka rupanya bergerak ke pojok untuk mendapat ruang yang lebih untuk menyiram air. Tangan gue terasa pedih menarik selang airnya. “Capek juga jadi pemadam kebakaran” pikir gue.

Mereka menurunkan ujung selang air dari lantai 2. Gue ambil. Airnya masih ngucur lumayan kenceng. Kewalahan juga nahan liarnya air. “LEPASS !“. Gue lepas ternyata selang air itu mau dibawa kedalam rumah yang terbakar. Dua orang sudah berdiri ditangga yang diletakkan ditembok yang memisahkan kantorku dengan rumah yang terbakar itu.

Seseorang memberikan pada mereka selang airnya. Gue ma yang lain bantuin narik lagi selang airnya. Mereka mulai menyemprotkan ke dalam rumah.

Gue lari ke lantai 2 lagi. Dari sana ikut berteriak-teriak kepada orang yang dirumah susun dan pemadam kebakaran yang mulai masuk ke dalam areal rumah, memberitahukan letak-letak api yang masih hidup . Ya, api sudah lumayan dapat dipadamkan.

Sekitar 30 menit kebakaran, akhirnya api dapat dipadamkan. Masyarakat yang membantu sudah mulai pulang. Beberapa petugas pemadam kebakaran masih menyemprotkan air dari dalam rumah, menuntaskan pekerjaan mereka.

Lelah dan kebasahan. Itu yang terlihat dari mereka.

Kalo mau bicara untung, untungnya pos pemadam kebakaran ada tepat didepan kantorku dan kran hydran jg tak jauh dari kantorku. Untung juga masyarakat di rumah susun kompak membantu, mereka bekerja terkoodinir dengan baik. Untung juga angin membuat api menjilat dinding kantorku, bukan menjilat ke arah rumah-rumah tukang kayu yang penuh dengan barang-barang yang terbuat dari kayu.

Wartawan-wartawan mulai berdatangan. Biasa, mencari berita.

Listrik yang sempat padam, akhirnya dihidupkan lagi. Bau asap masih memenuhi ruangan gue. Untungnya kantor gue gak ikut kebakar berkat kesigapan masyarakat dan petugas memadamkan api. Hanya 2 kompresos AC yang sedikit terbakar, itupun kompresor yang sudah tidak dipakai lagi.

Malamnya gue buka detik.com, ternyata beritanya sudah masuk. Agak sedikit dilebihkan sih. Ya tapi tak apalah, biar seru sedikit.

20 Kata

somebody

aprian - September 28th, 2003

I want somebody to share
Share the rest of my life
Share my innermost thoughts
Know my intimate details
Someone who’ll stand by my side
And give me support
And in return
She’ll get my support
She will listen to me
When I want to speak
About the world we live in
And life in general
Though my views may be wrong
They may even be perverted
She’ll hear me out
And won’t easily be converted
To my way of thinking
In fact she’ll often disagree
But at the end of it all
She will understand me
Aaaahhhhh….

I want somebody who cares
For me passionately
With every thought and
With every breath
Someone who’ll help me see things
In a different light
All the things I detest
I will almost like
I don’t want to be tied
To anyone’s strings
I’m carefully trying to steer clear of
Those things
But when I’m asleep
I want somebody
Who will put their arms around me
And kiss me tenderly
Though things like this
Make me sick
In a case like this
I’ll get away with it
Aaaahhhhh….

depeche mode – somebody

Should I have to find a reason to fall in love with you ?. Why can’t I just go on with the feeling I have ?

21 Kata

langkah sepi……

aprian - September 18th, 2003

Pernah gak sih tiba-tiba kehilangan mood ?…

Pernah gak sih bete gak jelas ? …

Pernah gak sih kangen tapi gak tahu kangen ma siapa ?…

Pernah gak sih ngerasain kesepian yang sangat ditengah keramaian teman-teman menemanimu ?…

Dua hari yang lalu aku merasakan itu. Bingung dan gak tahu musti bagaimana. Akhirnya kuputuskan untuk keluar. Mungkin udara segar bandung bisa mengeluarkan racun-racun dikepalaku dan juga menghilangkan keanehan-keanehanku hari itu.

Kukenakan sepatu kets dan tas biruku. Didalamnya tersimpan sweater dan kameraku. Aku pikir mungkin nanti malam bandung akan dingin dan kameraku bisa kugunakan memotret sesuatu yang menarik. Gadis-gadis bandung mungkin ?….

Kuberhentikan angkot riung bandung-dago. Tujuan pertamaku adalah BIP. Bukan apa-apa, karena arah ke BSM macet. Dan aku sedang tidak mood untuk bersabar-sabar ria ditengah macetnya pasar kordon.

BIP

Seperti biasa, ramai dipenuhi orang-orang yang berbelanja, sekedar lewat, cuci mata, pacaran atau sekedar melewatkan waktu seperti aku. Aku berjalan ke Toko Buku Gunung Agung. Tadinya aku hendak menonton, tapi aku memutuskan untuk melihat-lihat buku terlebih dahulu.

Banyak orang yang membaca buku dan majalah. Tak banyak yang kulihat antri di kasir untuk membayar. Jadi bisa sedikit kupastikan kalo mereka ingin membaca gratis. Sama juga sepertiku nantinya. Aku mulai ikut berkerumun di tempat majalah. Memilih-milih majalah yang sudah terbuka sampul plastiknya. Sekedar membaca. Melewatkan paragraf demi paragraf. Tak ada informasi yang penting. Jadi kubiarkan saja otakku tak merekamnya.

Lalu aku teringat tentang buku Psikologi Agama: Sebuah Pengantar karangan Jalaluddin Rakhmat. Tadi aku sempat membaca reviewnya disebuah koran. Kupikir buku yang menarik. Jadi aku mulai mencari-cari, dari rak psikologi, agama, novel sampai tempat buku-buku baru. Tak kutemukan juga. Akupun tak berpikir untuk bertanya ke penjaganya. Jadi aku berhenti mencarinya. Saat di rak novel aku melihat buku michael crichton. “Buku baru rupanya” dalam hatiku. Aku ingin membelinya, tapi rasanya naluri membaca buku-buku novel ini seperti hilang malam ini, padahal dia adalah salah satu pengarang novel favoritku. Kemampuannya menceritakan secara detail tentang teknologi-teknologi tinggi dalam novelnya memukauku. Bahkan teori tentang dunia paralel, mesin waktu bisa dijelaskan secara gamblang dan mendetail. Aku menyukai hal-hal seperti itu.

Aku melihat novel-novel lain, majalah-majalah terbitan luar negeri, buku ekonomi, manajemen dan rak-rak lainnya yang memajang buku. Hanya sekedar melihat.

Sejam disana aku memutuskan untuk pergi. Iseng aku naik keatas melihat film yang diputar di 21. “Ah telat, kalau tadi langsung nonton seh sempet masuk” pikirku. Saat itu pukul 18.30 dan film diputar pukul 18.00. League of Extraordinary Gentlemen rasanya bukan film yg jelek untuk ditonton disaat mood yang tak jelas ini.

Akhirnya kuputuskan untuk ke Gramedia. Seberang jalan BIP.

Gramedia

Disinipun sama. Aku hanya berputar-putar, melihat-lihat, membaca halaman belakangan buku-buku, membaca sepintas lalu. Disini aku ingin membeli sesuatu tapi entah apa. Belum ada buku yang cocok. Lama berputar-putar. Tak sengaja kulihat buku Mahabrata karangan S. Pendit. Kuambil dan kubaca halaman belakangnya. Dan aku memutuskan untuk membelinya. Kalau ditanya kenapa ?, aku juga tak tahu. Yang jelas aku ingin membelinya.

Aku masih berputar-putar saja, melihat-lihat lagi. Dari satu rak ke rak yang lain. Menelusuri, mencari sesuatu. Akupun juga tak tahu apa yang kucari. Tapi aku merasa aku masih butuh satu buku lagi. Buku kahlil gibran bertebaran. Tapi itu tak mengguggahku. Tak ada hasrat untuk membacanya bahkan membelinya. Naluri sentimentilku sedang mati. Kemudian aku melihat buku Mahadewa Mahadewi. Cover depannya menarik. Dan saat aku membaca sampul belakangnya, naluriku berkata “Ini harus dibeli”.

Aku sendiri tak tahu kenapa memilih kedua buku itu. Hanya mengambil begitu saja. Merasakan kecocokan ketika tanganku menyentuh buku itu pertama kali, ketika paragraf-paragraf pertama sekilas dibaca. Aku membeli dan membaca buku berdasarkan naluri saja.

Setelah kubayar, aku keluar dari gramedia. Melanjutkan perjalanan panjangku. BIP – Simpang Dago……

NB (Ne Buin) :
Lagi males ngetik, males mikir, males nginget-nginget. Besok balik ke Jakarta. Lima hari kemarin waktu yang indah buat bersenang-senang bersama teman, sahabat dan orang-orang yang dekat dihati. Bulan depan baru bisa balik bandung lagi.

26 Kata

wait…

aprian - September 17th, 2003

maafkan aku jika seperti memaksamu…
itu hanya karena waktuku terbatas.

i’ll wait all day, even for just one minute with you.

7 Kata