Lampu Merah di Perempatan Jalan

aprian - January 9th, 2010

Tengah malam pukul 00.30.

Aku memacu motorku kencang. Jalanan yang tidak begitu ramai membuatku leluasa untuk melaju dengan cepat diantara malam yang semakin larut. Udara dingin menampar wajahku.

Aku mulai mengurangi kecepatan motorku dan berhenti tepat di garis lampu lalu lintas. Lampu warna merah menyala dengan terang, kontras dengan suasana temaram di jalan ini. Jalan ini adalah perempatan antara jalan Hasanudin dengan jalan Gunung Kawi. Jalan yang siang hari selalu padat dengan kendaraan bermotor karena di ujung Utara jalan Gunung Kawi ini adalah sebuah pasar.

Tanpa sadar aku melihat ke kanan dan tersenyum. Melihat sebuah toko yang membuat ingatkanku melayang tentang rasa rindu yang kupunya dulu.

Di sebelah kiriku seorang bapak-bapak tua duduk diatas motor tuanya dan berkonsentrasi dengan lampu merah. Di belakangku beberapa mobil terlihat sabar menunggu. Kendaraan mulai berdatangan dan dengan tenang menunggu di belakang garis dari lampu lalu lintas. Semua orang mengantri dan menunggu.

Lampu lalu-lintas ini masih berwarna merah, orang-orang masih sabar menunggu dan seperti terlihat asyik memandangi lampu merah itu. Aku merasa orang-orang seperti terhipnotis. Diam dan menunggu lampu berwarna hijau. Padahal kalau saja mereka mau, mereka bisa saja tidak mengindahkan lampu merah itu, melaju menerobosnya karena jalan yang bersimpangan sudah tidak ada kendaraan yang lewat dan polisi lalu lintas juga tidak ada.

Aku jadi bertanya-tanya tentang ini. Apakah mereka berhenti dan setia menunggu lampu lalu lintas itu menjadi hijau karena alam bawah sadar mereka “memerintahkan” untuk tidak menarik gas dan melajukan kendaraan mereka ataukah mereka berhenti dengan kesadaran bahwa lampu lalu lintas ini membantu mengatur mereka berkendaraan agar semuanya selamat sampai di tujuan?

Lalu pertanyaan lain muncul di kepalaku, apa gunanya aku tahu tentang itu? Aku sendiri tadinya berhenti karena melihat lampu merah dan reflek saja menginjak rem dan berhenti di garis lampu lalu lintas ini.

Setelah ku pikir, lebih baik hal-hal kecil seperti ini dikerjakan oleh alam bawah sadar. Sama seperti hal-hal kecil baik lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, meletakkan kembali barang pada tempatnya, menyikat gigi sebelum tidur atau bahkan menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Alam bawah sadar bertindak cepat dan tanpa kita sadari.  Setidaknya dia tidak membuat kita berpikir apakah membuang sampah pada tempatnya akan menghasilkan pahala yang memberi surga dengan bidadari-bidadarinya. Tindakan kita menjadi tulus.

Lampu berubah hijau.

Aku menarik gas motorku kencang, membiarkan angin dingin menerpa wajahku. Kendaraan yang lain juga melakukan hal yang sama. Memacu kendaraannya untuk membawa mereka ke tempat yang mereka inginkan.

Pada akhirnya pertanyaanku tetaplah hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tapi  yang penting ketika lampu merah semua mau berhenti di garis lampu lalu lintas dan setia menunggu lampu hijau datang bahkan ketika malam yang sepi sekalipun.

21 Kata untuk “Lampu Merah di Perempatan Jalan”

  1. astiti berkata:

    mmmm…….. kamu lagi dikasi lampu merah instead of lampu hijau ya pri?
    ga pa pa pri. Daripada dikasi lampu hijau dan ternyata di depanmu jurang…..
    Nyesel sih engga, cuma kamu bakal terlambat ngerem dan mati-mati sendiri karena alam bawah sadar itu. hihi!!

    **sok tau mode : on**

  2. thelo berkata:

    intinya adalah sadar :)

    welcome back dude . . . :D

  3. Sheilla berkata:

    Waaa lama juga ga ke sini, biasa kita ktemu di Plurk ya? Hehe met taun baru yaaa…

  4. rahmat berkata:

    Misteri lain adalah siapa yang akan kita temui di persimpangan itu dan kapan.

  5. linda berkata:

    mungkin mereka berhenti karna reflek, kalo lampu merah tandanya berhenti. :)

  6. suton berkata:

    jadilah pengendara motor yang baek :)

  7. pushandaka berkata:

    Kurasa jawabnya karena mereka takut ditilang polisi. Coba kalau tetap melaju di saat lampu merah menyala ndak diancam sanksi, mungkin mereka ndak akan menghiraukan lampu apapun yang menyala, walaupun mereka tetap akan mengurangi kecepatan kendaraannya di setiap perempatan. :)

  8. a! berkata:

    kali begini. karena tiap hari sudah diperintah oleh lampu lalulintas, maka alam bawah sadar kita akan otomatis terlatih. jdnya refleks.

    apalagi ini kemudian ada “pemaksaan” dari polisi pada pengguna jalan. jdnya makin tertib.

    nah kalau sekali2 melanggar dan dbiarkan. lama-lama ya akan jd kebiasaan.

  9. gustulank berkata:

    Yang “rindu” itu sama penjaga toko ya? atau manekinnya? hehehe…

  10. meika berkata:

    karena kita semua pemakai jalan yang baik.

    pak, blognya saya link, ya?

  11. aprian berkata:

    @putri: putri, ga ada orang bodoh masang lampu lalu lintas yg di depannya ada jurang hehehe … :)

    @bowo: iyah, sadar utk kembali ngeblog hahaha. Thx wo.

    @sheilla: met tahun baru shel.Kebanyakan ngeplurk sampe lupa ngeblog :D

    @rahmat: yes indeed, thats another question thought :0

    @linda: bisa jadi lin, tiap orang aku rasa alasannya beda2 utk berhenti. Dan ada jg yg nekat nyelonong. Kamu yg mana?

    @suton: baik om. Om skarang jadi polisi yak? :)

    @agung: tapi tengah malem buta ga ada polisi gung. Jadi?

    @anton: hmm bener jg ton. Tp buat apa ya kita tahu yg beginian? ahhaha.

    @tulank: hahahah, rindu pada masa lalu gus ;)

    @meika: kayaknya gak semua deh heheheh. Boleh, monggo aja. Thx ya ka :)

  12. luhde berkata:

    mas aprian ternyata bloggingnya setaon paling banyak 3 kali. pasti berubah kalo dah bisa bikin doi sayang padamu ya.. ahe

  13. rizal berkata:

    begitu pentingnya membuat kebiasaan baik.
    secara tidak sadar kita akan melakukan apa-apa yang sering kita lakukan. jadi pilihannya kebiasaan baik atau buruk.
    salam kenal

  14. sireum berkata:

    akhirnya posting lagi… setelah sekian lamaa…

  15. senny berkata:

    selama ga lagi buru-buru, gue malah suka lampu merah, ngasih gue waktu untuk berpikir ketika ada begitu banyak yg bs gue lihat di jalan

  16. aap berkata:

    Segala kebiasaan kita pada akhirnya akan dikendalikan oleh alam bawah sadar kita ..salam..!

  17. imadewira berkata:

    orang bisa karena biasa :-)

  18. dani berkata:

    Kalo yang di depan nerobos, biasanya di belakangnya juga ngga mau kalah. :)

    Untuk mengisi waktu, bisa juga memerhatikan info di spanduk atau reklame di perempatan.

  19. metty berkata:

    lihat2 waktu dan tempat juga sih. kalau waktunya jam 00.30 dan lagi di jalan yang sepi, mending tancap gas aja daripada kenapa2…

  20. aprian berkata:

    @luhde: kehilangan inspirasi sih heheheh :D

    @rizal: trus apa pilihanmu? :). Salam kenal juga riz

    @sireum: iyah, terlalu lama mang. Apa kabar ibu sireum? :)

    @senny: mang apa yang dilihat sen? :)

    @aap: begitu ya? jadi mang musti banyak kebiasaan baik yang harus dikendalikan alam bawah sadar brarti ya :)

    @metty: kalo sepi kira2 knapa2 gmana? … :D

  21. widi berkata:

    untuk alam bawah sadar emang perlu.. tapi kalo segala tindakan kita dilakukan dibawah alam sadar gedubrakkkk semua..

    Brovo tulisannya bagus

Leave a Reply