Kain Pel

aprian - January 13th, 2006

Sini kamu!

Dari pojok lantai ia terlari tergopoh-gopoh mendekat.

Malam ini ada pesta, aku harus tampil cemerlang. Aku tak mau ada noda didiriku” sahut sang ubin.

Lihat, ada noda coklat disudut sana. Aku terlihat kusam. Aku tak mau mereka mencemoohku

Baik“, jawab kain pel singkat sambil tersenyum.

Dengan tekun ia mulai membersihkan setiap ubin hingga menjadi cemerlang. Melepaskan kotoran-kotoran yang melekat. Menggosok hingga ubin berkemilau seperti baru kembali. Bahkan ia sendiri dapat bercermin pada sang ubin.

Kain pel itu sudah lama tinggal dirumah ini. Ia tinggal disudut gelap dibawah tangga. Ubin-ubin itu tak ada yang menghiraukannya. Yang mereka tahu, ketika mereka menjadi kotor, mereka akan berteriak memanggil kain pel untuk membersihkannya. Dan kain pel akan datang membantu mereka tanpa banyak tanya.

***

Malam itu sama seperti malam-malam lainnya. Pesta kembali digelar. Lampu-lampu menyala dengan terangnya. Ruangan dihias dengan indah. Makanan mulai disajikan. Piring, sendok dan garpu dari perak ditata dengan indah. Ubin-ubinpun telah cemerlang, berkemilau, bersih dari kotoran dan memantulkan cahaya lampu dengan indahnya.

Tamu mulai berdatangan, mereka memuji ubin-ubin itu. Terkadang mereka mematut-matut diri mereka di depan ubin-ubin itu.

Kain pel, dari gelapnya bawah tangga mengintip. Ia senang pekerjaannya berhasil. Ia senang bisa membantu ubin-ubin itu, menjadikannya lebih cemerlang. Membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang. Tapi hanya itu yang ia bisa lakukan, ia tidak bisa ikut pesta itu. Ia hanya bisa melihat kegembiraan tanpa bisa merasakan kegembiraan itu.

Ketika semua berpesta bergembira, ia duduk sendiri dipojok yang gelap. Dan ketika pesta usai, ia lah yang pertama kali datang dan membersihkan semuanya. Membuat ubin-ubin itu menjadi cemerlang dan bersih lagi, untuk bersiap-siap di pesta berikutnya.

Ia tahu ini takdirnya, ia hanya bisa membantu ubin-ubin itu membersihkan dirinya, membuat mereka tampil bersih dan cemerlang tapi tidak bisa ikut dalam pesta-pesta mereka. Memang terkadang ia tak bisa berdamai, menginginkan untuk bisa menjadi bagian dari pesta itu. Ingin seperti ubin-ubin itu, menjadi pusat perhatian orang-orang. Tapi ia tahu, ketika ia muncul, orang-orang akan mengusirnya, ubin-ubinpun kadang meminta kain pel agar tetap diam dipojoknya yang gelap.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, bisakah kita seperti kain pel yang berdamai dengan takdirnya?

10 Kata untuk “Kain Pel”

  1. mia berkata:

    hmm.. kepake ya kata2ku yang berdamai dengan kenyataan.. hihihi =p
    baca postingmu jadi keinget ama some1, pri..

  2. snydez berkata:

    biasanya gue gak bisa ngomen disini..
    coba aahh

  3. snydez berkata:

    sip bisa…

    jadi inget iklan permbersih, yang suaminya ngepel sampe berurat juga gak ilang nodanya..soalnya ternyata nodanya berasal dari pantulan atap yang hitam :D

  4. gre berkata:

    kaya’nya gak bisa deh. sebab kita sudah lihat selimut. sebab kita sering make celana. karenanya kita pengen jadi salah satu dari mereka.

  5. finia berkata:

    wah pri..bagus banget ceritanya! :)

  6. puty berkata:

    tapi pri, kain pel kan juga dicuci, dijemur, yah ga gelap2an mulu juga…
    heuheuh… *tampang belet*

  7. ciphie berkata:

    permisiiiiiiiiiii…… *numpang ngamen*

    akkuuu taakk maauuuu kalo akkuuu diiimadduuu… pulangkan sajaaa kepadaaa oranngg tuaaakuu…..

    ehuehieheie
    please update ur link yaa :p

  8. Morningdew berkata:

    Set dah, dalem banget postingannya ;-)

  9. Petty berkata:

    Seperti sutradara di balik layar yach!!!!!!

  10. Menali berkata:

    menali sedang mencari supplier yang bisa produksi kain pel, eits ga sengaja menemukan ini, indah sekali sobat, menjadi yang paling berarti meski orang lain tak mampu menghargainya, boleh nanti menali share di FB? menalipun suka menulis, semoga nanti kita bisa berbagi, salam keheingan siang :)

Leave a Reply