Rumah sakit jiwa

aprian - May 9th, 2013

Aku merapatkan kakiku, membungkukkan badan lalu sedikit menekuk lutut dan kemudian meloncat. Aku luruskan tanganku, menyatu dan bahu seperti menutup kedua telingaku. Sekejap kemudian tanganku, kepalaku, badanku lalu kaki mulai masuk ke dalam air. Meloncat ke dalam air membutuhkan sedikit teknik agar ketika mulai mendarat di air, bukan dada yang pertama kali kena. Kuncinya adalah pastikan kedua tangan tetap lurus ke depan dan rapat ke kepala lalu bahu menutupi telinga.

Aku tidak sedang ingin bercerita tentang bagaimana caranya berenang atau bagaimana caranya meloncat ke dalam kolam renang. Aku ingin bercerita tentang rumah sakit jiwa.

Momen ketika tangan, kepala, badan lalu kaki hingga seluruh tubuh masuk air adalah seperti ketika kita membuka pintu lalu masuk ke dunia baru yang berbeda. Dunia yang tadi penuh hiruk pikuk dengan suara. Dunia yang penuh oksigen yang kita hirup bebas hingga kita lupa betapa pentingnya oksigen. Dunia penuh cahaya dimana mata melihat warna-warna indah. Lalu tiba di dunia yang mendadak hanya ada kesunyian, dunia dengan  oksigen masih terikat erat dengan atom hidrogen. Dunia yang terasa sepi. Semua berbeda.

Aku selalu takjub dengan momen itu. Aku merasa ketika di dalam air, dengan kondisi oksigen yang  sebatas paru-paru kita bisa menyimpannya, ketika indra pendengaran tertutup rapat hingga kesunyian lebih banyak yang terdengar, ketika mata terbatas melihat dan semua tampak kabur, aku merasakan aku melihat diriku sendiri dengan cara yang berbeda. Aku bertemu dengan diriku dengan jujur.

Usai takjub, aku mulai memikirkan semua hal yang menggangu dan mencoba menemukan solusinya. Aku mulai bicara dengan diri sendiriku yang jujur. Menyingkirkan lapis-lapis kesombongan, ego dan berdamai dengan aku. Singkat kata, dalam dunia bawah air dimana kita mengalami keterbatasan, aku malah lebih mudah berkontemplasi. Merenungi apa yang semua telah terjadi dan apa yang akan terjadi.

Mungkin ini terdengar lucu, tapi dunia bawah air seperti menjadi rumah sakit bagi jiwaku. Tempat dimana aku mengobati jiwa yang terkadang terluka dan sedih. Tempat dimana aku bisa sejenak beristirahat dan lupa tentang dunia atas yang terlalu ramai. Tempat jiwa bisa bersyukur dengan semua hal indah yang sudah diterima. Tempat dimana jiwa seperti menemukannya rumahnya untuk pulang.

Aku tak bilang bahwa semua orang akan mengalami pengalaman yang sama. Aku percaya semua orang harus punya rumah sakit jiwanya masing-masing, dimanapun itu letaknya. Bahkan di tempat-tempat yang paling absurd sekalipun. Jiwa kita butuh istirahat, butuh disembuhkan, butuh tenang dan kita juga butuh bicara dengan diri kita yang paling jujur.

Jadi kamu, dimana rumah sakit jiwamu?

1 Kata

Komitmen

aprian - February 9th, 2012

Ok, sekarang mari kita lakukan dengan caraku. Cara ini akan sangat menyakitkan tapi berhasil“.

Wajahnya terlihat serius. Aku sedikit terkejut dengan pernyataannya.

Baik. Lebih sakit apalagi selain dari yang sudah kualami. Aku tak peduli“, sahutku. Sedikit ragu, tapi aku pikir kalo semua jalan sudah dicoba dan ada yang menawarkan cara yang lain, kenapa tidak kita coba? Gak ada salahnya bukan?

Sederhana. Pertama pikirkan tujuanmu. Tulis itu disini” sambil ia menyerahkan padaku sebuah pensil dan kertas. “Tulis dengan detail. Amat sangat detail hingga kalo ada orang lain yang membacanya dia merasa itu sangat nyata.”

Aku sedikit bingung dan terdiam sejenak. Perlahan aku mulai menuliskan apa yang sangat kuinginkan. Dia hanya diam menatapkku, menungguku menyelesaikan tulisanku.

Nih, udah” kujulurkan kertas itu padanya. Ia mengambilnya dari tanganku, lalu mulai membacanya dengan serius. “Bagus, kamu memang pintar nulis ya?“. Ia tersenyum padaku. “Sekarang tutup matamu dan bayangkan hingga yang kamu tulis ini nyata“.

Ah?” Aku jadi makin bingung. “Udah ikutin aja. Tutup mata dan bayangin aja sejenak“.

Aku ikuti caranya yang mulai sedikit agak aneh ini.

Sudah?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.

Kedua. Sekarang tulis apa yang kamu harus lakukan dan apa yang kamu perlukan untuk bisa dapetin apa yang udah kamu tulis tadi itu” ucapnya sambil menyodorkanku kertas putih yang lain.

Baiklah pikirku, aku mulai penasaran dengan caranya ini. Aku mulai menuliskan apa yang dimintanya. Kali ini sedikit sulit. Aku diam, berpikir dan menuliskan apa yang terlintas di kepalaku. Sejenak kemudian kuserahkan kertas itu padanya. Ia membacanya lalu melipat kertas itu.

Isi kertas pertama dan kedua itu ada disini kan?” tunjuknya ke kepalaku. Aku cuma mengangguk. Ia menegaskan lagi, “yakin kan?“. Aku mengenyirtkan dahiku. “Yakinlah!” jawabku sedikit agak berteriak. Ia tersenyum.

Bagus!” dan ia mulai merobek kertas pertama yang kuberikan padanya dan cuma berucap “Dan lupakan ini“.

Hei, kok gitu?” sahutku bingung dengan tindakannya. Lagi-lagi ia tersenyum dan mulai membuatku muak sekaligus penasaran. “Pokokna kamu lupain yang kamu tulis di kertas pertama tadi. Janji?

Lho, trus?” jawabku bingung. “Ikutin aja semuanya“.

Ya pasti keingetlah, tapi ya gue bakal gak berusaha gak nginget-ngingetnya kalo gitu“.

Kemudian ia menyerahkan kertas kedua padaku. Aku menerimanya dengan kedua tanganku. Agak sedikit aneh, terasa seperti menyerahkan sesuatu yang sangat berharga.

Kertas ini adalah kertas paling berharga buat kamu. Kamu harus berjanji dan berkomitmen penuh untuk ngelakuin semua yang kamu tulis di kertas ini tanpa ada bunyi keluhan sedikitpun terucap dari bibirmu. Pertaruhkan semua yang kamu punya untuk berkomitmen melakukan semua yang kamu tulis ini. Kamu sanggup?

Aku menatapnya nanar, ia juga mendadak diam lalu menyahut, “maaf, harusnya bukan kalimat pertanyaan, harusnya .. kamu harus sanggup!” sahutnya dengan nada yang sedikit kuat menekankan pada kata sanggup.

Aku mengangkat bahuku dengan sedikit cemas apakah temanku masih waras apa tidak.

Either do it or don’t, but don’t complain about it.” katanya sambil menepuk bahuku.

“Baiklah” sahutku tegas. Aku pikir, mungkin cara yang bodoh ini bisa berhasil. Kita lihat saja nanti dan doakan saja aku.

Udah itu aja. Kita tunggu hasilnya ya. Semuanya tergantung kamu. Jalan yang kamu lalui ini bakal beda. Yang penting tetap komitmen untuk ngelakuin apa yang harus kamu lakuin. Jangan berhenti!

Aku mendura. Sesaat semua hal dari masalaluku seperti datang melintas di kepala dan seperti menonton film lama yang bisu dan hanya terdengar bunyi proyektor pemutar film.

Tapi seperti katanya, lakukan saja tanpa mengeluh. Doakan aku …

4 Kata

kehilangan

aprian - January 23rd, 2012

Diam kau! Nggak usah tanya pun aku sudah tahu! Kelihatan jelas dari muka kalian, tuh!

Matamu mengatakan kalau kau telah kehilangan sesuatu dan kau nggak bisa melupakan rasa kehilangan itu! Saat ini pun kau terus terpaku di situ, kan?

Kau bahkan nggak mau berusaha melangkah pergi dari situ, matamu sudah menceritakan semua padaku! Begitu sadar dan melihat sekeliling, ternyata sudah nggak ada siapa pun di sekitarmu. Yang ada hanyalah kebosanan yang menemanimu

Lalu, kau mengira kebosanan itu muncul gara-gara kehilangan yang kau alami. Aku benar kan? Yah … sia-sia saja bicara pada pengecut sepertimu, sih … kau nggak akan ngerti

— Harumichi Boya (Crows – 14)

 

0 Kata

Jejak Langkah

aprian - December 16th, 2010

Eh tunggu, berapa? Hmm, cukup banyak juga ya? Waktu seperti berlompatan tidak dalam deret hitung tapi dalam deret ukur. Tanpa sadar angkanya sudah cukup banyak. Dengan angka seperti itu, harusnya sudah banyak yang kulakukan. Tapi ketika kulihat kebelakang, tak terlihat jejak apa-apa.

***

Kamu pernah berjalan di bibir pantai? Ketika kita berjalan jejak langkah kita sesaat tertinggal di pasir pantai yang basah terkena air laut. Hanya sesaat ia ada sebagai bukti bahwa kita pernah melangkah disana, tapi tak lama air laut datang dan menghapus jejak kita seakan-akan kita tidak pernah hadir. Pantai kembali seperti perawan yang tak terjamah.

Mungkin yang kulalui sama seperti berjalan di pasir pantai. Jejak yang lalu sudah hilang, mungkin terlupa olehku atau memang aku tak pernah melaluinya, hanya diam di bibir pantai dan bertanya-tanya mana jejakku?

Daripada mendura memikirkan jejak yang hilang, kenapa kita tak berlari menari dan menciptakan jejak-jejak baru dan tak peduli apakah jejak itu nantinya hilang tersaput air laut. Mari kita menari, mencipta jejak dan biarkan kaki melangkah sesuai kehendak.

4 Kata

untuk apa tahu lebih dulu?

aprian - September 12th, 2010

Lalu untuk apa tahu lebih dulu tapi  tidak bisa mengubahnya? Seperti berdiri di  pasir hisap yang perlahan menelan kita,  tanpa kita bisa berbuat apa-apa selain berharap ada keajaiban datang menyelamatkan kita.

Lalu untuk apa tahu tahu lebih dulu?

3 Kata