Apa aku jatuh cinta?

aprian - July 25th, 2013

Udah lama?” tanyaku. “Belum” sahutnya. Aku sedikit terlambat dari waktu yang aku janjikan untuk bertemunya di sebuah kedai kopi di pusat kota Denpasar. Kemacetan di Bali sekarang semakin menjadi-jadi, membuat waktu perjalanan menjadi lebih panjang.

Mau pesen apa? Aku sih raspberry black currant kayak biasanya“. Ia memandangku lalu melihat papan menu yang tertempel diatas deket meja barista. Matanya menulusuri satu demi satu nama menu di papan itu.  “Shaken ice green tea” katanya.

Aku bertemu dengannya hari ini karena aku harus meminjam laptopnya. Ada satu website untuk pekerjaanku yang mengalami malfungsi kalau dibuka dari laptop dengan merk apel tergigit itu. Aku tahu menemaniku bekerja akan membuatnya mati dengan rasa bosan, jadi aku membawakannya beberapa komik smurf dan sebuah buku merah berjudul “101 things to do before you’re old and boring”.

Semoga ia tidak terbunuh rasa bosan.

***

Ia terlihat menerawang. Komik-komik smurf smurf sudah habis terbaca dan tergeletak di meja. Buku merah masih dipegang ditangannya. Matanya menatap ke jendela besar yang ada disebelahnya. Entah apa yang dilihatnya diluar. Yang aku lihat cuma senja dan kemacetan di sekitaran jalan Teuku Umar ini.

Tanpa sadar aku juga jadi lebih memperhatikannya.

Rambutnya hitam lurus, dan karena ia memakai kacamata ada sedikit lekukan dekat dengan gagang kacamatanya. Kacamatanya sedikit agak turun di hidungnya, dan ia jadi tampak terlihat sedikit nerdy. Dengan poni yang jatuh ke samping, kadang ketika sedikit menunduk seperempat bagian wajahnya tertutup dan menutupi bagian matanya. Gabungan dengan garis wajah yang tegas cenderung judes dan poni yang menutupi wajahnya membuat ia jadi tampak nerdy, misterius dan menarik.

Karakternya yang tegas — bahasa halus untuk galak , dengan pakaian yang digunakan hari ini tampak bertolak belakang. Rok pendeknya berwarna kuning cenderung putih dengan motif bunga-bunga kecil yang cerah dan baju yang aku tidak tahu harus menyebutnya apa, membuat penampilannya keseluruhan seperti gadis remaja manis dengan lingkaran cahaya di kepalanya yang belum pernah melihat dunia yang luas. Kata orang kontradiksi itu indah, dan sepertinya mereka benar. Cantik.

Mendadak ia memandangku. Aku jadi seperti maling jemuran yang tertangkap basah. Ia mengangkat alisnya seakan bertanya, “ada apa?”.  Aku menggelengkan kepala, lalu ia membalas dengan tersenyum sangat manis. Aku hanya berharap aku tak terkena diabetes karena itu.

Hmm … apa aku jatuh cinta?

 

..”I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the waters that make your eyes shine
now I’m shining too
~ Landon Pigg – Falling In Love At A Coffee Shop

3 Kata

Paruh waktu

aprian - July 11th, 2013

Kalo bahasa indonesianya sih “pekerja paruh waktu”, tapi kalo bahasa dunia sananya kita kenal namanya “freelance”. Tadi iseng-iseng nyari di kamus bahasa indonesia arti kata “paruh waktu” yaitu seperdua waktu atau sebagian waktu. Jadi kalau “pekerja paruh waktu” itu artinya orang yang bekerja sebagian dari waktu bekerjanya.

Gue sih gak lagi ngajarin bahasa indonesia disini, cuma lagi tergelitik aja. Kalau “pekerja paruh waktu” sebagian waktu bekerjanya dipakai buat bekerja berarti sebagian lagi menganggur kan? Bisa dibilang “pekerja paruh waktu” itu juga adalah “pengangguran paruh waktu”, ya kan? Atau dengan kata lain bisa dibilang pengangguran terselubung.

Terus? ya udah gitu aja sih.

2 Kata

Bahu yang kuat

aprian - June 30th, 2013

Tuhan yang baik, saya ga minta bebannya diringanin. Saya cuma minta saya diberi bahu yang kuat, supaya gimanapun beban yang diberi, saya masih bisa memanggulnya.

0 Kata

Tentangmu

aprian - May 13th, 2013

Ketika aku menulis tentangmu, aku mengamatimu
Ketika aku mengamatimu, aku jadi mengenalmu
Ketika aku mengenalmu, aku jatuh cinta padamu
Ketika aku jatuh cinta padamu, aku menulis tentangmu

 

1 Kata

Rumah sakit jiwa

aprian - May 9th, 2013

Aku merapatkan kakiku, membungkukkan badan lalu sedikit menekuk lutut dan kemudian meloncat. Aku luruskan tanganku, menyatu dan bahu seperti menutup kedua telingaku. Sekejap kemudian tanganku, kepalaku, badanku lalu kaki mulai masuk ke dalam air. Meloncat ke dalam air membutuhkan sedikit teknik agar ketika mulai mendarat di air, bukan dada yang pertama kali kena. Kuncinya adalah pastikan kedua tangan tetap lurus ke depan dan rapat ke kepala lalu bahu menutupi telinga.

Aku tidak sedang ingin bercerita tentang bagaimana caranya berenang atau bagaimana caranya meloncat ke dalam kolam renang. Aku ingin bercerita tentang rumah sakit jiwa.

Momen ketika tangan, kepala, badan lalu kaki hingga seluruh tubuh masuk air adalah seperti ketika kita membuka pintu lalu masuk ke dunia baru yang berbeda. Dunia yang tadi penuh hiruk pikuk dengan suara. Dunia yang penuh oksigen yang kita hirup bebas hingga kita lupa betapa pentingnya oksigen. Dunia penuh cahaya dimana mata melihat warna-warna indah. Lalu tiba di dunia yang mendadak hanya ada kesunyian, dunia dengan  oksigen masih terikat erat dengan atom hidrogen. Dunia yang terasa sepi. Semua berbeda.

Aku selalu takjub dengan momen itu. Aku merasa ketika di dalam air, dengan kondisi oksigen yang  sebatas paru-paru kita bisa menyimpannya, ketika indra pendengaran tertutup rapat hingga kesunyian lebih banyak yang terdengar, ketika mata terbatas melihat dan semua tampak kabur, aku merasakan aku melihat diriku sendiri dengan cara yang berbeda. Aku bertemu dengan diriku dengan jujur.

Usai takjub, aku mulai memikirkan semua hal yang menggangu dan mencoba menemukan solusinya. Aku mulai bicara dengan diri sendiriku yang jujur. Menyingkirkan lapis-lapis kesombongan, ego dan berdamai dengan aku. Singkat kata, dalam dunia bawah air dimana kita mengalami keterbatasan, aku malah lebih mudah berkontemplasi. Merenungi apa yang semua telah terjadi dan apa yang akan terjadi.

Mungkin ini terdengar lucu, tapi dunia bawah air seperti menjadi rumah sakit bagi jiwaku. Tempat dimana aku mengobati jiwa yang terkadang terluka dan sedih. Tempat dimana aku bisa sejenak beristirahat dan lupa tentang dunia atas yang terlalu ramai. Tempat jiwa bisa bersyukur dengan semua hal indah yang sudah diterima. Tempat dimana jiwa seperti menemukannya rumahnya untuk pulang.

Aku tak bilang bahwa semua orang akan mengalami pengalaman yang sama. Aku percaya semua orang harus punya rumah sakit jiwanya masing-masing, dimanapun itu letaknya. Bahkan di tempat-tempat yang paling absurd sekalipun. Jiwa kita butuh istirahat, butuh disembuhkan, butuh tenang dan kita juga butuh bicara dengan diri kita yang paling jujur.

Jadi kamu, dimana rumah sakit jiwamu?

1 Kata