untuk apa tahu lebih dulu?

aprian - September 12th, 2010

Lalu untuk apa tahu lebih dulu tapi  tidak bisa mengubahnya? Seperti berdiri di  pasir hisap yang perlahan menelan kita,  tanpa kita bisa berbuat apa-apa selain berharap ada keajaiban datang menyelamatkan kita.

Lalu untuk apa tahu tahu lebih dulu?

3 Kata

Coklat buat loe

aprian - September 9th, 2010

Gue tu gak pinter bikin loe ketawa, tapi gue yakin coklat ini bisa. Makanya gue beliin coklat, biar loe bisa ketawa lagi … :)

0 Kata

Seperti kacang

aprian - May 5th, 2010

Kalau 5, 10 atau 15 menit sih gak papa. Atau kalau urgent. Tapi kamu …“, jawabnya galak.

Ya habis nelpon kamu itu kayak makan kacang, gak bisa berhenti kalau belum habis“.

30 second ya?“, balasku.

Ia diam, tak menjawab pesan singkatku.

*tuuut… tuuut … tuuut*

Ya?” Sahutnya ketus menjawab panggilan teleponku.

30 second ya?” tanyaku langsung.

Ia tak menjawab, dan itu artinya iya. Dan aku tahu ini tak akan menjadi 30 detik saja.

***

I used to hide and watch you from a distance
And I knew you realized
I was looking for a time to get closer
At least to say “Hello”
And I can’t stand to wait ‘till night is coming to my life

~endah n rhesa – when you love someone~

8 Kata

Selamat Ulang Tahun

aprian - April 27th, 2010

Selamat ulang tahun Sekar Putih.

Selamat ulang tahun Achillia.

5 Kata

dan mimpi yang nyata

aprian - April 4th, 2010

Musik yang berdentam-dentam memekakkan telingaku. Lampu temaram dan asap rokok bergumpal seperti awan.

Ikutin gue!” teriak temanku di telinga. Aku memegang bahunya, mengikuti langkahnya menerobos di kerumunan orang-orang yang asik menari dan tertawa mengikuti dentaman musik.

Kami masuk ke sebuah ruangan. Suasana jauh lebih buruk dari diluar. Ruangan yang lebih gelap, hanya sesekali lampu berwarna putih, merah, biru dan hijau bersinar berputar-putar. Bau rokok, alkohol, parfum dan keringat bercampur. Gadis-gadis dengan pakaian minim menari, berputar tertawa sambil dikelilingi para lelaki. Sesekali mereka menggoda dengan  meliukkan badan mendekati para lelaki. Sebuah pameran hedonisme.

“Eh ini kenalin temen gue” kata temanku sambil menunjuk ke arahku. Aku menjulurkan tanganku kepadanya. Tangan lembutnya menggegam uluran tanganku. Ia mendekatkan kepalanya padaku dan menyebut namanya yang sayangnya aku tidak mendengarnya begitu jelas. Aku menyebut namaku juga. Kulihat sekilas ia tersenyum.

Ia menarik tanganku dan seakan berbisik, “Ikut gue“. Temanku sendiri sudah entah kemana, sepertinya ia pergi dengan teman si gadis yang diperkenalkan padaku ini.

Aku mengikutinya keluar dari ruangan. Sesaat genggaman tanganku lepas darinya dan ia menghilang. Kemudian, kulihat ia berjalan menaiki tangga menuju ke lantai atas. Aku mengikutinya menaiki tangga kayu itu dan menuju ke sebuah ruangan lain yang ada dipojok  dari lantai itu.

Ruangan ini berbeda, tak terdengar sedikitpun dentaman musik dan tak ada juga asap rokok. Di kiri kanannya hanya lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku yang tebal. Disini yang aku rasa hanya kesepian yang dingin.

Ia duduk di lantai, meluruskan kakinya dan bersender di salah satu lemari buku. Ia tersenyum padaku dan seakan memanggilku untuk mendekat. Ada rasa hangat yang damai yang menjalar di tubuhku.

Aku mendekatinya dan merebahkan kepalaku di pangkuannya. Ia mengusap kepalaku lembut. Aku merasa damai datang setelah lama pergi. Merasa ada sepi yang hilang, diganti dengan rasa hangat yang lembut. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah begitu lama pergi.

Aku menutup mataku perlahan …

***

Aku melonjak, terbangun. Melihat di sekitarku dan menyadari aku masih di kamarku bukan di ruang yang penuh buku-buku tadi dan juga bukan di pangkuan seorang gadis yang baru kukenal yang aku tak tahu namanya.

Aku bertanya-tanya, yang mana mimpi? Apa dunia tadi bersama gadis itu atau dunia sekarang di kamar ini?

3 Kata