Pertanyaan

aprian - April 27th, 2007

Duduk diam disini dengan kepala penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku tahu pasti tidak akan terjawab membuatku muak dan lelah. Ternyata jauh lebih lelah seperti ini daripada mengejar bola 2×45 menit melawan anak-anak RT sebelah dalam pertandingan bola antar RT di bandung dulu.

Sepertinya aku harus belajar lebih keras untuk lupa. Lupa, sesuatu yang dulu kuanggap mengganggu karena sering kali membuatku mengalami banyak masalah, sekarang adalah satu-satunya jalan agar otakku ini tak muak dan lelah dirongrong pertanyaan-pertanyaan ini.

Mungkin lupa itu bukan lawan dari ingat, tapi lupa ada komplemen dari ingat. Seperti dua sisi keping uang receh, mereka ada untuk menjadi satu, bukan untuk saling berlawanan. Kadang “ingat” adalah hal yang diperlukan dan kadang “lupa” ini juga yang kita perlukan. Mungkin juga itu kenapa selalu ada sisi dari tiap hal di dunia ini. Ah, nanti kita tanyakan saja pada Tuhan. Ini saja sudah menambah pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

Lalu kalau sekarang tidak bisa lupa bagaimana?. Itu lagi pertanyaan baru. Kenapa hidup ini selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan? Apa memang kita hidup untuk menjawab pertanyaan?. Nah kan, pertanyaan lagi?.

Rasanya aku perlu pengalih perhatian saat ini. Sesuatu yang membuatku berhenti bertanya-tanya seperti ini. Tapi sebelumnya, kamu percaya kalau tiap masalah yang kamu hadapi itu jawabannya selalu ada di sekitar kita? Kalaupun jawabannya tidak ada di sekitar kita, tapi orang-orang atau hal-hal yang membantu kita menemukan jawaban akan ada di sekitar kita. Dekat dengan kita. Percaya?. Aku percaya itu. Aku percaya karena hal seperti itu sering terjadi. Ya ini bukan kebenaran mutlak, hanya soal kepercayaan aja. Bukankah kita hidup dengan apa yang kita percayai?

Jadi.. Di sebelah kananku ada  buku Long Tail-nya Chris Anderson yang belum terbaca. Di sudut depan kanan, ada 5 DVD bajakan. The Pursuit of Happyness, The Illusionist, Flags of our father, Letters from Iwo Jima, Apocalypto. Sebelah kiriku Trax edisi April dengan pose Avril Lavigne yang menurutku seksi. Di depan atasku ada Doa Sang Katak Anthony de Mello, Rule of Four yang belum terbaca dan beberapa buku lain. Di sebelah kiri depan ada gunting.

Gunting rasanya gak akan membantuku saat ini. Avril juga tak begitu menggoda imanku. Long Tail? Otakku sedang mumet mencerna bahasannya. Doa sang katak? Sudah lebih dari 5 kali aku baca. Jadi yang tersisa mungkin film-film ini.

Rasanya dari tadi dvd ini menggodaku. Mudah-mudahan aku menemukan jawaban disini. Kalaupun tidak, mudah-mudahan menemukan inspirasi untuk menemukan jawabannya. Kalaupun juga tidak, mudah-mudahan aku bisa menghilangkan rasa muakku ini. Judulnya juga merefleksikan apa yang kurasa saat ini.

The Pursuit of Happyness…
***

Malam ini, malam yang katanya dimana keinginan-keinginanku akan terkabul karena tanggalnya istimewa buatku, aku hanya menginginkan sesuatu yang semua orang juga pasti inginkan ….. Kebahagiaan.

Doakan aku.

14 Kata

sakit

aprian - March 3rd, 2007

kenapa rasanya sakit sekali?”

21 Kata

Selamat tahun baru 2007 ?

aprian - January 1st, 2007

Selamat sore!

Gue baru bangun nih. Bagaimana pesta tahun baru-nya tadi malam?. Rame, seru, gila, nendang atau biasa aja?.

Gue … hmm, cuma main games Dotta di sebuah games center di jalan Diponogoro sama temen gue sampai jam 1/2 6 pagi. Kayakna kemarin lebih sibuk mikirin gimana lucifer, hero gue, bisa punya attack yang lebih kuat dan bisa ngeluarin magic buat ngebunuh hero musuh lebih cepat. Lebih pusing mikirin gimana markas gue di serang terus menerus dan pertahanan gue udah mulai jebol daripada sibuk berhitung mundur dan meniup terompet untuk nunggu pergantian tahun.

Basi?

Gak juga sih. Secara gue akhir-akhir ini … eh, bukan akhir-akhir ini, 2 bulan belakangan ini sedang mengalami masalah gangguan hati dan kram otak makanya mood buat pesta-pesta, hura-hura untuk tahun baru jadi gak masuk dalam daftar must yang harus gue lakukan. Bikin wishlist sama bikin resolusi kayak biasanya aja nggak. Bener-bener nggak kepikiran sama sekali.

“Oi..sehat fisik & hati dul?”, SMS dari si ayam yang bikin hp gue rame pagi-pagi tadi. Tapi sms-nya bikin gue jadi kepikiran juga.

Sehat fisik?

Kalau ukurannya gue masih hidup, ya gue masih posting di blog gue sampai saat ini. Tapi gak tahu juga kalo 2 jam lagi gue ketabrak truk manggis trus ketimpa tangga pula, he he he. Tapi kalo ukurannya berat badan, tekanan darah dan teman-teman statistik vitalitas tubuh itu, mungkin gue lagi sakit juga. Ini juga makan pagi gue jam 3 sore gini. Badan gue lagi gak konek ma otak gue ni. Sinyal-sinyal lapar gak kunjung dikirim dari otak. Kayakna lagi nge-hang.

Pernah gak loe ngerasa kebanyakan informasi yang datang dalam otak loe?. Kayak badai tsunami gitu. Sampai loe harus kewalahan sendiri untuk nerima, nyerap, memilah mana yang penting, mana yang sampah, mana yang harus dipikirkan, mana yang harus dilupakan, mana yang harus diingat. Dan pada puncaknya loe ngerasa kepala loe berasap dan loe pengen neken ctrl-alt-del buat ngereset biar otak loe mulai kerja lagi dari awal tanpa ngalamin badai informasi kayak gini.

Trus hati?

Kayakna pertanyaan ini harusna mang dijadiin satu. Menurut gue sih Hati dan otak itu satu paket. Hati riang otak normal dan hati sedih otak gila. Karena hati riang otak gak perlu bekerja keras untuk menstabilkan hati. Coba hati sedih, otak bekerja keras supaya hati riang lagi kan. Jadi ada beban tambahan lagi buat si otak. Tapi kalo si hati gak diurusin supaya riang lagi, yang ada otak bekerja seperti robot, tanpa rasa. Dan itu artinya loe bukan lagi jadi manusia.

Bingung?

Tenang, gak usah panik. Gue yang nulis aja juga bingung gue nulis apaan ini. Buat gue, ini cuma pelarian buat otak gue yang lagi kram dan hati gue yang lagi kelabu. Isinya mah gak penting. mungkin iklan obat kuat yang ada di Pos Kota jadi lebih penting daripada ini.

Jadi?

Ya jadi inilah tahun baru gue… eh salah, inilah ucapan selamat tahun baru dari gue. Dan maaf, saya sedang tidak merayakan tahun baru kali ini. Mungkin tahun depan saja, doakan saya tidak tertabrak trus manggis ya? :)

21 Kata

Api

aprian - November 29th, 2006

Aku sudah lama sendiri di sini, di sudut lapangan berdebu disebuah desa. Dulu anak-anak kecil senang bermain disekitarku, tapi sejak aku dicurigai menjadi sarang para hantu dan setan dan anak-anak itu ditakut-takuti oleh ayah ibunya jika sedang nakal, aku menjadi sendiri disini. Penduduk kampung juga seperti membenciku tapi segan menebangku karena takut kalau para setan yang “bersarang” disini marah. Penduduk yang aneh.

Kalian pasti terkejut bagaimana sebuah pohon beringin bisa bicara. Tapi kalau boleh aku ungkap, sebenarnya kami para tanaman bisa bicara. Betul itu, aku tak bohong. Tapi mungkin kalian manusia butuh sesuatu untuk mendengarkan. Butuh hati yang tulus.

***

Sejak sedari 3 hari ini, seorang pemuda sering datang. Berperawakan Kurus, tinggi, dengan kulit yang kecoklatan dan seperti kurang terawat. Wajahnya kusut. Tatapannya lebih sering menerawang jauh. Kosong. Mungkin itu biasa, yang paling membuatku heran adalah letupan-letupan api amarahnya. Ini tak seperti biasa, cenderung berlebih. Kadang memancar panas yang kuat, kadang hilang begitu saja. Tapi lebih banyak memancar kuat.

Hari ini dia cuma duduk menyender pada tubuhku, api dalam tubuhnya juga hilang. Wajahna terlihat letih. Ia cuma memandang kejauhan, seperti mengharap sesuatu akan datang. Tangannya lebih sibuk melempar-lempar batu kecil yang ada disekitarnya. Kemarin-kemarin ia tidak begini, kadang ia memukulku hingga kelelahan dan jari-jarinya berdarah. Kadang ia hanya mondar mandir di depanku sembari menendang-nendang tanah. Kadang ia diam berlutut, dan membenamkan kepalanya. Bahkan sempat ia menggigil seperti kedinginan, menggenggam jemarinya erat seperti menahan rasa sakit dari dalam dirinya.
Tapi ia tak pernah bicara, berteriak bahkan berbisik sekalipun. Ia hanya diam.

Aku juga cuma bisa diam. Jika saja dia bisa mengerti apa yang kubicarakan, mungkin kita bisa…yaah, istilah manusia-nya….curhat.

Kamu bisa mendengarku kan?” tanyanya lirih tanpa menatapku. “Awalnya aku pikir ini hanya perasaanku saja yang bicara. Tapi, akhir-akhir ini semakin terasa“. Aku cukup terkejut. Belum pernah ada yg bisa berbicara padaku. “Ya nak, aku mendengarmu“, sahutku.

Ia kembali diam.

Kamu baik-baik saja?“. Rasanya pertanyaanku aneh, tapi aku juga bingung mau bertanya apa. Ia juga hanya diam, melempar sebuah batu kecil jauh-jauh. “Kalau aku jawab ya berarti aku bohong, tapi kalau aku jawab tidak, saat ini aku masih hidup. Menurutmu?“. Ternyata pertanyaan sependek itu butuh jawaban yang panjang dan lagi malah bertanya balik. Menyebalkan!.

Kamu kenapa nak? Kenapa marah seperti itu?“.

Ia berdiri, berjalan memutariku, lalu berhenti dan berdiri membelakangiku menghadap matahari terbenam.

Darimana kamu tahu?

Yah, nenek-nenek sariawan juga tahu kalau kamu lagi marah“.

Ia menatapku sekilas, tersenyum tipis.

Kamu tahu rasanya dicampakkan?” tanyanya.

Hmmm…mungkin pernah. Dulu anak-anak kecil banyak bermain disini. Menghibur untuk pohon beringin setua seperti diriku melihat anak-anak bermain dan tertawa. Tapi kemudian beredar kabar kalau aku adalah sarang hantu dan setan. Sejak saat itu mereka tak pernah bermain disini lagi. Aku merasa tercampakkan.

Kamu mengalaminya?” tanyaku.

Ia diam. Api dalam tubuhna membesar lagi. Wow!. Dan buatku itu artinya ya.

Tak baik menyimpan amarah. Maafkanlah nak.

Maaf? Emang lebih gampang ngomong!. Kamu pikir setelah bicara maaf lalu semua bisa selesai dengan baik seakan-akan gak terjadi apa-apa? Bagaimana dengan perasaanku?. Bagaimana dengan lukaku?.”

Api ditubuhnya semakin membesar. Aku jadi bertanya-tanya siapa yang mencampakkannya sampai seperti ini? Dan bagaimana sampai amarahnya tak tertahan seperti ini.

Lalu maumu apa nak kalau meminta maaf tidak menyelesaikan masalah?. Mungkin lukamu bukan karena tercampakkan, tapi mungkin ia menusuk tepat di egomu.

Ia terdiam, menunduk dan menutup wajah dengan tangannya. Ia seperti menahan sesuatu yang amat sangat sakit. Api dalam tubuhnya masih menyala-nyala besar.

Kamu bisa memilih untuk diam disini dan membiarkan api itu membakarmu. Atau kamu bangkit, menegakkan dagu dan menghadapi ketercampakkanmu itu. Dicampakkan bukan berarti kalah nak. Kalah hanya jika kamu diam dan membiarkan dirimu terbakar. Kamu boleh bersedih, tapi tak boleh larut“.

Nak, Tuhan menganugerahkan manusia 3 hal. Keberanian, untuk menerima tantangan, menghadapi semua resikonya. Ketabahan, untuk tetap tegak berdiri ketika semua hal buruk datang mendera dan Kebijaksanaan untuk memilih apakah tetap berani mencoba tantangan atau berhenti dan tabah menerima hasil bahwa telah gagal untuk kemudian mencoba tantangan yang lain“.

Aku diam. Ia juga hanya diam.

Bersikaplah bijak“.

Ia melepaskan tangan dari wajahnya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Bagus nak, biarkan mengalir. Itu akan membuatmu lebih kuat.

Ah!, sok bijak!“, teriaknya.

Sinis sekali. Ia meninggalkanku pergi tanpa sekalipun menolehku. Walaupun ada nada marah disuaranya, tapi tak tampak api lagi di tubuhnya. Kuharap apa yang aku katakan membuatnya tersadar.

Manusia…manusia penuh dengan ego membuatnya jadi begitu rumit.

***

Esok hari. Ia hanya diam diujung lapangan itu. Wajah diamnya memandangku.

Kamu mau kemana?” tanyaku.

Ia diam, menunduk dan menarik tas ranselnya. Lalu berbalik dan pergi. Masih ada letupan-letupan api kecil di tubuhnya.

Pergilah nak, berjalanlah sejauh yang kamu bisa. Padamkan apimu sebelum ia membakarmu dan cari jawaban atas apa maumu“.

37 Kata

My Immortal

aprian - October 24th, 2006

I’m so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave I wish that you would just leave
Cause your presence still lingers here
And it won’t leave me alone

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all of me

You used to captivate me by your resonating light
Now I’m bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away oh all the sanity in me

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all of me

I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along

When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all, all of me
me

Evanescence - My Immortal

11 Kata