<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kata-Kata Pada Mata, Telinga, Mulut dan Hati</title>
	<atom:link href="http://www.aprian.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aprian.net</link>
	<description>Kata-Kata Pada Mata, Telinga, Mulut dan Hati</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 03:03:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>kehilangan</title>
		<link>http://www.aprian.net/2012/01/23/kehilangan/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2012/01/23/kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 03:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Diam kau! Nggak usah tanya pun aku sudah tahu! Kelihatan jelas dari muka kalian, tuh!&#8221; &#8220;Matamu mengatakan kalau kau telah kehilangan sesuatu dan kau nggak bisa melupakan rasa kehilangan itu! Saat ini pun kau terus terpaku di situ, kan?&#8221; &#8220;Kau bahkan nggak mau berusaha melangkah pergi dari situ, matamu sudah menceritakan semua padaku! Begitu sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Diam kau! Nggak usah tanya pun aku sudah tahu! Kelihatan jelas dari muka kalian, tuh!</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Matamu mengatakan kalau kau telah kehilangan sesuatu dan kau nggak bisa melupakan rasa kehilangan itu! Saat ini pun kau terus terpaku di situ, kan?</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Kau bahkan nggak mau berusaha melangkah pergi dari situ, matamu sudah menceritakan semua padaku! Begitu sadar dan melihat sekeliling, ternyata sudah nggak ada siapa pun di sekitarmu. Yang ada hanyalah kebosanan yang menemanimu</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Lalu, kau mengira kebosanan itu muncul gara-gara kehilangan yang kau alami. Aku benar kan? Yah &#8230; sia-sia saja bicara pada pengecut sepertimu, sih &#8230; kau nggak akan ngerti</em>&#8221;</p>
<p><strong>&#8211; Harumichi Boya (Crows &#8211; 14)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2012/01/23/kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Langkah</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/12/16/jejak-langkah/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/12/16/jejak-langkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 11:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Eh tunggu, berapa? Hmm, cukup banyak juga ya? Waktu seperti berlompatan tidak dalam deret hitung tapi dalam deret ukur. Tanpa sadar angkanya sudah cukup banyak. Dengan angka seperti itu, harusnya sudah banyak yang kulakukan. Tapi ketika kulihat kebelakang, tak terlihat jejak apa-apa. *** Kamu pernah berjalan di bibir pantai? Ketika kita berjalan jejak langkah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh tunggu, berapa? Hmm, cukup banyak juga ya? Waktu seperti berlompatan tidak dalam deret hitung tapi dalam deret ukur. Tanpa sadar angkanya sudah cukup banyak. Dengan angka seperti itu, harusnya sudah banyak yang kulakukan. Tapi ketika kulihat kebelakang, tak terlihat jejak apa-apa.</p>
<p>***</p>
<p>Kamu pernah berjalan di bibir pantai? Ketika kita berjalan jejak langkah kita sesaat tertinggal di pasir pantai yang basah terkena air laut. Hanya sesaat ia ada sebagai bukti bahwa kita pernah melangkah disana, tapi tak lama air laut datang dan menghapus jejak kita seakan-akan kita tidak pernah hadir. Pantai kembali seperti perawan yang tak terjamah.</p>
<p>Mungkin yang kulalui sama seperti berjalan di pasir pantai. Jejak yang lalu sudah hilang, mungkin terlupa olehku atau memang aku tak pernah melaluinya, hanya diam di bibir pantai dan bertanya-tanya mana jejakku?</p>
<p>Daripada mendura memikirkan jejak yang hilang, kenapa kita tak berlari menari dan menciptakan jejak-jejak baru dan tak peduli apakah jejak itu nantinya hilang tersaput air laut. Mari kita menari, mencipta jejak dan biarkan kaki melangkah sesuai kehendak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/12/16/jejak-langkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>untuk apa tahu lebih dulu?</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/09/12/untuk-apa-tahu-lebih-dulu/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/09/12/untuk-apa-tahu-lebih-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 11:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Lalu untuk apa tahu lebih dulu tapi  tidak bisa mengubahnya? Seperti berdiri di  pasir hisap yang perlahan menelan kita,  tanpa kita bisa berbuat apa-apa selain berharap ada keajaiban datang menyelamatkan kita. Lalu untuk apa tahu tahu lebih dulu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu untuk apa tahu lebih dulu tapi  tidak bisa mengubahnya? Seperti berdiri di  pasir hisap yang perlahan menelan kita,  tanpa kita bisa berbuat apa-apa selain berharap ada keajaiban datang menyelamatkan kita.</p>
<p>Lalu untuk apa tahu tahu lebih dulu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/09/12/untuk-apa-tahu-lebih-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coklat buat loe</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/09/09/coklat-buat-loe/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/09/09/coklat-buat-loe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 05:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Gue tu gak pinter bikin loe ketawa, tapi gue yakin coklat ini bisa. Makanya gue beliin coklat, biar loe bisa ketawa lagi &#8230; :)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Gue tu gak pinter bikin loe ketawa, tapi gue yakin coklat ini bisa. Makanya gue beliin coklat, biar loe bisa ketawa lagi </em>&#8230; :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/09/09/coklat-buat-loe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti kacang</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/05/05/seperti-kacang/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/05/05/seperti-kacang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 05:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kalau 5, 10 atau 15 menit sih gak papa. Atau kalau urgent. Tapi kamu &#8230;&#8220;, jawabnya galak. &#8220;Ya habis nelpon kamu itu kayak makan kacang, gak bisa berhenti kalau belum habis&#8220;. &#8220;30 second ya?&#8220;, balasku. Ia diam, tak menjawab pesan singkatku. *tuuut&#8230; tuuut &#8230; tuuut* &#8220;Ya?&#8221; Sahutnya ketus menjawab panggilan teleponku. &#8220;30 second ya?&#8221; tanyaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kalau 5, 10 atau 15 menit sih gak papa. Atau kalau urgent. Tapi kamu &#8230;</em>&#8220;, jawabnya galak.</p>
<p>&#8220;<em>Ya habis nelpon kamu itu kayak makan kacang, gak bisa berhenti kalau belum habis</em>&#8220;.</p>
<p>&#8220;<em>30 second ya?</em>&#8220;, balasku.</p>
<p>Ia diam, tak menjawab pesan singkatku.</p>
<p>*<em>tuuut&#8230; tuuut &#8230; tuuu</em>t*</p>
<p>&#8220;<em>Ya?</em>&#8221; Sahutnya ketus menjawab panggilan teleponku.</p>
<p>&#8220;<em>30 second ya?</em>&#8221; tanyaku langsung.</p>
<p>Ia tak menjawab, dan itu artinya iya. Dan aku tahu ini tak akan menjadi 30 detik saja.</p>
<p>***</p>
<p><em>I used to hide and watch you from a distance<br />
And I knew you realized<br />
I was looking for a time to get closer<br />
At least to say “Hello”<br />
And I can’t stand to wait ‘till night is coming to my life</em></p>
<p>~<em>endah n rhesa &#8211; when you love someone</em>~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/05/05/seperti-kacang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/04/27/selamat-ulang-tahun-2/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/04/27/selamat-ulang-tahun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 17:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Selamat ulang tahun Sekar Putih. Selamat ulang tahun Achillia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat ulang tahun <a href="http://www.sekarputih.com">Sekar Putih</a>.</p>
<p>Selamat ulang tahun<a href="http://chillz.aprian.net"> Achillia</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/04/27/selamat-ulang-tahun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dan mimpi yang nyata</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/04/04/dan-mimpi-yang-nyata/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/04/04/dan-mimpi-yang-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 08:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Musik yang berdentam-dentam memekakkan telingaku. Lampu temaram dan asap rokok bergumpal seperti awan. &#8220;Ikutin gue!&#8221; teriak temanku di telinga. Aku memegang bahunya, mengikuti langkahnya menerobos di kerumunan orang-orang yang asik menari dan tertawa mengikuti dentaman musik. Kami masuk ke sebuah ruangan. Suasana jauh lebih buruk dari diluar. Ruangan yang lebih gelap, hanya sesekali lampu berwarna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik yang berdentam-dentam memekakkan telingaku. Lampu temaram dan asap rokok bergumpal seperti awan.</p>
<p>&#8220;<em>Ikutin gue!</em>&#8221; teriak temanku di telinga. Aku memegang bahunya, mengikuti langkahnya menerobos di kerumunan orang-orang yang asik menari dan tertawa mengikuti dentaman musik.</p>
<p>Kami masuk ke sebuah ruangan. Suasana jauh lebih buruk dari diluar. Ruangan yang lebih gelap, hanya sesekali lampu berwarna putih, merah, biru dan hijau bersinar berputar-putar. Bau rokok, alkohol, parfum dan keringat bercampur. Gadis-gadis dengan pakaian minim menari, berputar tertawa sambil dikelilingi para lelaki. Sesekali mereka menggoda dengan  meliukkan badan mendekati para lelaki. Sebuah pameran hedonisme.</p>
<p>&#8220;Eh ini kenalin temen gue&#8221; kata temanku sambil menunjuk ke arahku. Aku menjulurkan tanganku kepadanya. Tangan lembutnya menggegam uluran tanganku. Ia mendekatkan kepalanya padaku dan menyebut namanya yang sayangnya aku tidak mendengarnya begitu jelas. Aku menyebut namaku juga. Kulihat sekilas ia tersenyum.</p>
<p>Ia menarik tanganku dan seakan berbisik, &#8220;<em>Ikut gue</em>&#8220;. Temanku sendiri sudah entah kemana, sepertinya ia pergi dengan teman si gadis yang diperkenalkan padaku ini.</p>
<p>Aku mengikutinya keluar dari ruangan. Sesaat genggaman tanganku lepas darinya dan ia menghilang. Kemudian, kulihat ia berjalan menaiki tangga menuju ke lantai atas. Aku mengikutinya menaiki tangga kayu itu dan menuju ke sebuah ruangan lain yang ada dipojok  dari lantai itu.</p>
<p>Ruangan ini berbeda, tak terdengar sedikitpun dentaman musik dan tak ada juga asap rokok. Di kiri kanannya hanya lemari-lemari yang penuh dengan buku-buku yang tebal. Disini yang aku rasa hanya kesepian yang dingin.</p>
<p>Ia duduk di lantai, meluruskan kakinya dan bersender di salah satu lemari buku. Ia tersenyum padaku dan seakan memanggilku untuk mendekat. Ada rasa hangat yang damai yang menjalar di tubuhku.</p>
<p>Aku mendekatinya dan merebahkan kepalaku di pangkuannya. Ia mengusap kepalaku lembut. Aku merasa damai datang setelah lama pergi. Merasa ada sepi yang hilang, diganti dengan rasa hangat yang lembut. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah begitu lama pergi.</p>
<p>Aku menutup mataku perlahan &#8230;</p>
<p>***</p>
<p>Aku melonjak, terbangun. Melihat di sekitarku dan menyadari aku masih di kamarku bukan di ruang yang penuh buku-buku tadi dan juga bukan di pangkuan seorang gadis yang baru kukenal yang aku tak tahu namanya.</p>
<p>Aku bertanya-tanya, yang mana mimpi? Apa dunia tadi bersama gadis itu atau dunia sekarang di kamar ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/04/04/dan-mimpi-yang-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Logika cinta</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/03/23/logika-cinta/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/03/23/logika-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 14:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Cinta itu pake hati, gak butuh logika. Loe pake logika ya pas bikin komitmennya, bukan pas jatuh cintanya.&#8221;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Cinta itu pake hati, gak butuh logika. </em></p>
<p><em>Loe pake logika ya pas bikin komitmennya, bukan pas jatuh cintanya</em>.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/03/23/logika-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>logika hati</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/01/26/logika-hati/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/01/26/logika-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 05:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/2010/01/26/logika-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Aku gak ngerti, tapi aku suka. Mungkin karena aku pake hati, bukan logika.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku gak ngerti, tapi aku suka. Mungkin karena aku pake hati, bukan logika.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/01/26/logika-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lampu Merah di Perempatan Jalan</title>
		<link>http://www.aprian.net/2010/01/09/lampu-merah-di-perempatan-jalan/</link>
		<comments>http://www.aprian.net/2010/01/09/lampu-merah-di-perempatan-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 18:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aprian.net/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Tengah malam pukul 00.30. Aku memacu motorku kencang. Jalanan yang tidak begitu ramai membuatku leluasa untuk melaju dengan cepat diantara malam yang semakin larut. Udara dingin menampar wajahku. Aku mulai mengurangi kecepatan motorku dan berhenti tepat di garis lampu lalu lintas. Lampu warna merah menyala dengan terang, kontras dengan suasana temaram di jalan ini. Jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tengah malam pukul 00.30.</p>
<p>Aku memacu motorku kencang. Jalanan yang tidak begitu ramai membuatku leluasa untuk melaju dengan cepat diantara malam yang semakin larut. Udara dingin menampar wajahku.</p>
<p>Aku mulai mengurangi kecepatan motorku dan berhenti tepat di garis lampu lalu lintas. Lampu warna merah menyala dengan terang, kontras dengan suasana temaram di jalan ini. Jalan ini adalah perempatan antara jalan Hasanudin dengan jalan Gunung Kawi. Jalan yang siang hari selalu padat dengan kendaraan bermotor karena di ujung Utara jalan Gunung Kawi ini adalah sebuah pasar.</p>
<p>Tanpa sadar aku melihat ke kanan dan tersenyum. Melihat sebuah toko yang membuat ingatkanku melayang tentang rasa <a href="http://www.aprian.net/2006/07/11/rindu/" target="_blank">rindu</a> yang kupunya dulu.</p>
<p>Di sebelah kiriku seorang bapak-bapak tua duduk diatas motor tuanya dan berkonsentrasi dengan lampu merah. Di belakangku beberapa mobil terlihat sabar menunggu. Kendaraan mulai berdatangan dan dengan tenang menunggu di belakang garis dari lampu lalu lintas. Semua orang mengantri dan menunggu.</p>
<p>Lampu lalu-lintas ini masih berwarna merah, orang-orang masih sabar menunggu dan seperti terlihat asyik memandangi lampu merah itu. Aku merasa orang-orang seperti terhipnotis. Diam dan menunggu lampu berwarna hijau. Padahal kalau saja mereka mau, mereka bisa saja tidak mengindahkan lampu merah itu, melaju menerobosnya karena jalan yang bersimpangan sudah tidak ada kendaraan yang lewat dan polisi lalu lintas juga tidak ada.</p>
<p>Aku jadi bertanya-tanya tentang ini. Apakah mereka berhenti dan setia menunggu lampu lalu lintas itu menjadi hijau karena alam bawah sadar mereka &#8220;memerintahkan&#8221; untuk tidak menarik gas dan melajukan kendaraan mereka ataukah mereka berhenti dengan kesadaran bahwa lampu lalu lintas ini membantu mengatur mereka berkendaraan agar semuanya selamat sampai di tujuan?</p>
<p>Lalu pertanyaan lain muncul di kepalaku, apa gunanya aku tahu tentang itu? Aku sendiri tadinya berhenti karena melihat lampu merah dan reflek saja menginjak rem dan berhenti di garis lampu lalu lintas ini.</p>
<p>Setelah ku pikir, lebih baik hal-hal kecil seperti ini dikerjakan oleh alam bawah sadar. Sama seperti hal-hal kecil baik lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, meletakkan kembali barang pada tempatnya, menyikat gigi sebelum tidur atau bahkan menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Alam bawah sadar bertindak cepat dan tanpa kita sadari.  Setidaknya dia tidak membuat kita berpikir apakah membuang sampah pada tempatnya akan menghasilkan pahala yang memberi surga dengan bidadari-bidadarinya. Tindakan kita menjadi tulus.</p>
<p>Lampu berubah hijau.</p>
<p>Aku menarik gas motorku kencang, membiarkan angin dingin menerpa wajahku. Kendaraan yang lain juga melakukan hal yang sama. Memacu kendaraannya untuk membawa mereka ke tempat yang mereka inginkan.</p>
<p>Pada akhirnya pertanyaanku tetaplah hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tapi  yang penting ketika lampu merah semua mau berhenti di garis lampu lalu lintas dan setia menunggu lampu hijau datang bahkan ketika malam yang sepi sekalipun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aprian.net/2010/01/09/lampu-merah-di-perempatan-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

