Tolongg !!!………

aprian - September 30th, 2003

panas banget seh ?. Ini AC kok sepoi-sepoi gini niup anginnya ?

Sore itu di kantor, di minggu sore yang membosankan, gue ma temen gue berpanas-panas ria. Semuanya pada buka baju.

Tiba-tiba….

PRI !!…. KEBAKARAN !!!

Gue langsung lari keluar, melihat dari jendela. Ternyata kebakaran terjadi dirumah belakangan kantor. Tepat bersebelahan dengan ruangan tempat gue kerja.

Api sudah menyambar kemana-mana. Asap tebal membumbung tinggi. Teman-teman entah lari kemana. Gue sendiri ke kamar mandi, nyari ember. Tapi gue pikir ini gak cukup buat mademin api.

Gue inget kalo didepan kantor itu ada pos jaga pemadam kebakaran. Gue lari turun ke depan. Tapi di depan kantor ternyata sudah banyak orang. Petugas pemadam kebakaranpun sudah menggelar selangnya.

Gue lari kedalam lagi. Mastiin bahwa di ruanganku baik-baik saja. Dari jendela aku melihat orang-orang sibuk menggelar selangnya. Mulai menyemprotkan air.

Gue berlari keruanganku. Manggil office boy (OB), meminta bantuannya untuk mematikan komputer. Saat gue sibuk mematikan komputer, tiba-tiba listrik langsung padam. Aku pikir ada yang memadamkan. Gue kunci ruangan, takut ada orang yang memanfaatkan kesempatan untuk mencuri sesuatu.

Ada temen gue yg mulai menelp bos-bos kantor gue. Beberapa lain jagain ruangan agar aman. Barang-barang masih belum ada yang dievakuasi. Karena ternyata gue lihat api tidak menjalar kekantorku. Hanya menyambar-nyambar saja. Dan itu tepat bersebelahan dengan ruangan gue.

OB-OB kantor gue ternyata sibuk membantu petugas pemadam kebakaran. Teman-teman gue juga. Dari lantai 2 kantor mereka menyemprotkan airnya.

Rumah itu sendiri posisinya cukup aneh. Di depannya terletak rumah susun, di sebelah kiri dan belakangnya oleh kantorku dan disebelah kanan oleh rumah-rumah tukang kayu.

Api menjilat-jilat kemana-mana. Dalam 10 menit semua bagian rumah itu sudah terbakar. Asap mulai keluar dari celah-celah atap.

Gue ngga tahu ada berapa tepatnya mobil kebakaran. Yang jelas didepan kantorku cuma ada satu mobil. Dari rumah susun di lantai 2 dan 3 sendiri terlihat air disemprotkan. Untunglah mereka mempunyai keran hydran sendiri.

Air-air yang mereka semprotkan ternyata terhalang oleh atap. Beberapa orang melemparkan batu untuk menghancurkan atapnya.

Dari lantai 2 kantor gue, air yang berasal dari mobil pemadam kebakaran mulai disemprotkan. Satu selang itu dipegang oleh 5 orang dewasa.

TARIK-TARIK !!“. Mereka menarik slang airnya, tapi seperti tertahan sesuatu.

Dari jendela lantai 2 aku turun ke tangga lantai 1. Menarik selang itu sendirian. Sial tak ada yang membantuku. Selang air itu benar-benar berat. “WOII BANTUIN NARIKK !“. Beberapa orang turun membantuku. Menarik selang air agar lebih memanjang. Gue lihat ada batu yang menghalangi selang. Gue singkirin batunya, trus narik selang lagi. Mereka rupanya bergerak ke pojok untuk mendapat ruang yang lebih untuk menyiram air. Tangan gue terasa pedih menarik selang airnya. “Capek juga jadi pemadam kebakaran” pikir gue.

Mereka menurunkan ujung selang air dari lantai 2. Gue ambil. Airnya masih ngucur lumayan kenceng. Kewalahan juga nahan liarnya air. “LEPASS !“. Gue lepas ternyata selang air itu mau dibawa kedalam rumah yang terbakar. Dua orang sudah berdiri ditangga yang diletakkan ditembok yang memisahkan kantorku dengan rumah yang terbakar itu.

Seseorang memberikan pada mereka selang airnya. Gue ma yang lain bantuin narik lagi selang airnya. Mereka mulai menyemprotkan ke dalam rumah.

Gue lari ke lantai 2 lagi. Dari sana ikut berteriak-teriak kepada orang yang dirumah susun dan pemadam kebakaran yang mulai masuk ke dalam areal rumah, memberitahukan letak-letak api yang masih hidup . Ya, api sudah lumayan dapat dipadamkan.

Sekitar 30 menit kebakaran, akhirnya api dapat dipadamkan. Masyarakat yang membantu sudah mulai pulang. Beberapa petugas pemadam kebakaran masih menyemprotkan air dari dalam rumah, menuntaskan pekerjaan mereka.

Lelah dan kebasahan. Itu yang terlihat dari mereka.

Kalo mau bicara untung, untungnya pos pemadam kebakaran ada tepat didepan kantorku dan kran hydran jg tak jauh dari kantorku. Untung juga masyarakat di rumah susun kompak membantu, mereka bekerja terkoodinir dengan baik. Untung juga angin membuat api menjilat dinding kantorku, bukan menjilat ke arah rumah-rumah tukang kayu yang penuh dengan barang-barang yang terbuat dari kayu.

Wartawan-wartawan mulai berdatangan. Biasa, mencari berita.

Listrik yang sempat padam, akhirnya dihidupkan lagi. Bau asap masih memenuhi ruangan gue. Untungnya kantor gue gak ikut kebakar berkat kesigapan masyarakat dan petugas memadamkan api. Hanya 2 kompresos AC yang sedikit terbakar, itupun kompresor yang sudah tidak dipakai lagi.

Malamnya gue buka detik.com, ternyata beritanya sudah masuk. Agak sedikit dilebihkan sih. Ya tapi tak apalah, biar seru sedikit.

20 Kata

somebody

aprian - September 28th, 2003

I want somebody to share
Share the rest of my life
Share my innermost thoughts
Know my intimate details
Someone who’ll stand by my side
And give me support
And in return
She’ll get my support
She will listen to me
When I want to speak
About the world we live in
And life in general
Though my views may be wrong
They may even be perverted
She’ll hear me out
And won’t easily be converted
To my way of thinking
In fact she’ll often disagree
But at the end of it all
She will understand me
Aaaahhhhh….

I want somebody who cares
For me passionately
With every thought and
With every breath
Someone who’ll help me see things
In a different light
All the things I detest
I will almost like
I don’t want to be tied
To anyone’s strings
I’m carefully trying to steer clear of
Those things
But when I’m asleep
I want somebody
Who will put their arms around me
And kiss me tenderly
Though things like this
Make me sick
In a case like this
I’ll get away with it
Aaaahhhhh….

depeche mode – somebody

Should I have to find a reason to fall in love with you ?. Why can’t I just go on with the feeling I have ?

21 Kata

langkah sepi……

aprian - September 18th, 2003

Pernah gak sih tiba-tiba kehilangan mood ?…

Pernah gak sih bete gak jelas ?…

Pernah gak sih kangen tapi gak tahu kangen ma siapa ?…

Pernah gak sih ngerasain kesepian yang sangat ditengah keramaian teman-teman menemanimu ?…

Dua hari yang lalu aku merasakan itu. Bingung dan gak tahu musti bagaimana. Akhirnya kuputuskan untuk keluar. Mungkin udara segar bandung bisa mengeluarkan racun-racun dikepalaku dan juga menghilangkan keanehan-keanehanku hari itu.

Kukenakan sepatu kets dan tas biruku. Didalamnya tersimpan sweater dan kameraku. Aku pikir mungkin nanti malam bandung akan dingin dan kameraku bisa kugunakan memotret sesuatu yang menarik. Gadis-gadis bandung mungkin ?….

Kuberhentikan angkot riung bandung-dago. Tujuan pertamaku adalah BIP. Bukan apa-apa, karena arah ke BSM macet. Dan aku sedang tidak mood untuk bersabar-sabar ria ditengah macetnya pasar kordon.

BIP

Seperti biasa, ramai dipenuhi orang-orang yang berbelanja, sekedar lewat, cuci mata, pacaran atau sekedar melewatkan waktu seperti aku. Aku berjalan ke Toko Buku Gunung Agung. Tadinya aku hendak menonton, tapi aku memutuskan untuk melihat-lihat buku terlebih dahulu.

Banyak orang yang membaca buku dan majalah. Tak banyak yang kulihat antri di kasir untuk membayar. Jadi bisa sedikit kupastikan kalo mereka ingin membaca gratis. Sama juga sepertiku nantinya. Aku mulai ikut berkerumun di tempat majalah. Memilih-milih majalah yang sudah terbuka sampul plastiknya. Sekedar membaca. Melewatkan paragraf demi paragraf. Tak ada informasi yang penting. Jadi kubiarkan saja otakku tak merekamnya.

Lalu aku teringat tentang buku Psikologi Agama: Sebuah Pengantar karangan Jalaluddin Rakhmat. Tadi aku sempat membaca reviewnya disebuah koran. Kupikir buku yang menarik. Jadi aku mulai mencari-cari, dari rak psikologi, agama, novel sampai tempat buku-buku baru. Tak kutemukan juga. Akupun tak berpikir untuk bertanya ke penjaganya. Jadi aku berhenti mencarinya. Saat di rak novel aku melihat buku michael crichton. “Buku baru rupanya” dalam hatiku. Aku ingin membelinya, tapi rasanya naluri membaca buku-buku novel ini seperti hilang malam ini, padahal dia adalah salah satu pengarang novel favoritku. Kemampuannya menceritakan secara detail tentang teknologi-teknologi tinggi dalam novelnya memukauku. Bahkan teori tentang dunia paralel, mesin waktu bisa dijelaskan secara gamblang dan mendetail. Aku menyukai hal-hal seperti itu.

Aku melihat novel-novel lain, majalah-majalah terbitan luar negeri, buku ekonomi, manajemen dan rak-rak lainnya yang memajang buku. Hanya sekedar melihat.

Sejam disana aku memutuskan untuk pergi. Iseng aku naik keatas melihat film yang diputar di 21. “Ah telat, kalau tadi langsung nonton seh sempet masuk” pikirku. Saat itu pukul 18.30 dan film diputar pukul 18.00. League of Extraordinary Gentlemen rasanya bukan film yg jelek untuk ditonton disaat mood yang tak jelas ini.

Akhirnya kuputuskan untuk ke Gramedia. Seberang jalan BIP.

Gramedia

Disinipun sama. Aku hanya berputar-putar, melihat-lihat, membaca halaman belakangan buku-buku, membaca sepintas lalu. Disini aku ingin membeli sesuatu tapi entah apa. Belum ada buku yang cocok. Lama berputar-putar. Tak sengaja kulihat buku Mahabrata karangan S. Pendit. Kuambil dan kubaca halaman belakangnya. Dan aku memutuskan untuk membelinya. Kalau ditanya kenapa ?, aku juga tak tahu. Yang jelas aku ingin membelinya.

Aku masih berputar-putar saja, melihat-lihat lagi. Dari satu rak ke rak yang lain. Menelusuri, mencari sesuatu. Akupun juga tak tahu apa yang kucari. Tapi aku merasa aku masih butuh satu buku lagi. Buku kahlil gibran bertebaran. Tapi itu tak mengguggahku. Tak ada hasrat untuk membacanya bahkan membelinya. Naluri sentimentilku sedang mati. Kemudian aku melihat buku Mahadewa Mahadewi. Cover depannya menarik. Dan saat aku membaca sampul belakangnya, naluriku berkata “Ini harus dibeli”.

Aku sendiri tak tahu kenapa memilih kedua buku itu. Hanya mengambil begitu saja. Merasakan kecocokan ketika tanganku menyentuh buku itu pertama kali, ketika paragraf-paragraf pertama sekilas dibaca. Aku membeli dan membaca buku berdasarkan naluri saja.

Setelah kubayar, aku keluar dari gramedia. Melanjutkan perjalanan panjangku. BIP – Simpang Dago……

NB (Ne Buin) :
Lagi males ngetik, males mikir, males nginget-nginget. Besok balik ke Jakarta. Lima hari kemarin waktu yang indah buat bersenang-senang bersama teman, sahabat dan orang-orang yang dekat dihati. Bulan depan baru bisa balik bandung lagi.

26 Kata

wait…

aprian - September 17th, 2003

maafkan aku jika seperti memaksamu…
itu hanya karena waktuku terbatas.

i’ll wait all day, even for just one minute with you.

7 Kata

Bandung..aku datang !!

aprian - September 16th, 2003

Bandung..aku datang !!

Gambir bang !

Tukang ojek itu menghidupkan motornya. Dan sore itu melajulah aku ke stasiun Gambir. Mungkin ini adalah kali keberapanya aku pulang ke Bandung. Namun, tiap kepulangan selalu membawa kegembiraan tersendiri. Jujur saja, aku tidak menikmati kota Jakarta ini. Banyak hal yang tidak masuk dalam logikaku terjadi disini. Dan banyak orang-orang dengan karakter aneh yang kutemui juga. Sedangkan bandung mirip dengan tanah kelahiranku. Lingkungannya, orang-orang dan juga suasananya. Mungkin itu yang menyebabkan aku betah di bandung.

Pukul 17.50 WIB

Aku turun dan setengah berlari menuju loket tiket. Tadi aku lihat di internet, kereta berikutnya jam 1/2 tujuh malam. “Mudah-mudahan dapet tiket” kataku dalam hati. Di depan loket ternyata antrian sudah panjang. Aku lihat antrian kelas argo hanya sedikit, setelah kupastikan ternyata kereta berangkat pukul 20.30 malam. “Terlalu malam untukku”. Kalo aku berangkat terlalu malam, aku takut temanku tak jadi menjemputku. Antrian kelas bisnis dan eksekutif juga panjang.

Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri diantrian kelas eksekutif, karena pengantrinya lebih sedikit daripada kelas bisnis. Tiba-tiba ada yang menanyaiku “mas ini kereta yang jam berapa ?”. “Eh iya jam berapa ya ?” dalam hatiku. Lalu aku dan lelaki itu bertanya ke ibu yang antri di depanku. “Jam setengah delapan mas”jawab ibu itu. Lelaki itu kemudian mengucapkan terima kasih dan berlari ke loket. Aku juga mengikutinya. Karena aku pikir aku tadi mengantri untuk kereta 1/2 7. Ternyata benar, itu kereta setengah delapan. Masih ada kereta setengah tujuh, tapi tempat duduk telah habis. Aku memutuskan untuk naik kereta setengah tujuh dengan resiko duduk dibawah.

Setengah jam menunggu, aku membeli roti sosis dan koran.

Pukul 18.30

Kereta datang. Aku masuk ke satu gerbong, mencari tempat diantara sambungan kereta. Bau pesing menyengat. Akhirnya kuputuskan untuk pindah ke kereta restorasi. Tak kusangka, ternyata banyak orang disana. Aku pikir jumat malam bukan hari yang ramai untuk balik ke bandung.”Ya sudahlah, daripada bau pesing di sambungan, mending disini” batinku. Aku mengambil salah satu tempat. Disebelah kiriku seorang bapak-bapak dengan topi hitam dan pin-up raider berdiri, dan disebelah kananku, ibu-ibu tua berjilbab sedang asyik menata tempat untuk duduk.

Orang-orang mulai mencari tempat untuk duduk. Aku sudah duduk bersila dibawah. Membuka roti sosisku dan melanjutkan bacaanku tadi. Tak peduli dengan orang yang lalu lalang mencari tempat, serta petugas-petugas kereta yang membawa minuman dan makanan untuk dijual.

Kulihat sekitarku, bapak yang berdiri disebelahku masih tetap berdiri, ibu yg tadi duduk disebelahku sudah berpindah tempat. Rupanya ia duduk didepan pintu kamar petugas kereta api. Penumpang yang lain ada yang sudah tertidur, ada yang melamun, merokok, dan ada pula yang masih mengobrol. Tiap orang punya kesibukan masing-masing. Senang rasanya melihat kesibukan seperti ini, mengamati sesuatu, mengamati orang lain melakukan akitivitasnya masing-masing.

Seorang petugas membawa sebuah bantal lewat. Seorang ibu yang berdiri dua deret disebelahku bertanya “Mas ada bantalnya gak ?”. “Ntar ya bu, ada di depan” sahut petugas itu. Tak lama kemudian si ibu pergi ke depan. Kemudian ia balik membawa bantal untuk alas duduknya. Aku hanya diam, karena kupikir kalau aku kedepan, tempat dudukku akan diambil orang lain. Nanti saja kutunggu petugas itu datang lagi.

Petugas itu kemudian balik lagi. Aku menanyainya “Mas ada bantal ?”. Bapak-bapak disebelahku juga
menanyakan hal yang sama. “Se-et” jawabnya. “Ah sial” makiku. Kini aku harus duduk tanpa alas bantal. Bisa tambah tepos pantatku ini.

Setengah jam kemudian aku sudah mengantuk. Kutarik kakiku, lalu kusenderkan kepalaku dikakiku. Dan aku tertidur ditengah hiruk pikuk suara kereta dan suara orang yang berbicara. Lupa dengan sekitar dan lupa dengan bantal yang tak kudapatkan.

“Brakkk”

Lalu kakiku terasa dingin. Aku mendongakkan kepala.

“Hati-hati dong mas !’ bentak seorang pemuda sambil membersihkan celananya yang terkena gelas. “Ini mepet-mepet mas, susah jalannya” sahut si petugas sambil mengambil gelas yang terjatuh, yang untungnya tidak pecah. Sesudah itu petugas itu berlalu, melanjutkan pekerjaannya mengantarkan minuman-minuman itu ke gerbong-gerbong. Tinggalah pemuda itu dengan celananya yang sedikit basah.

“Sialann !” umpatnya. “Maaf mas” katanya padaku. “Gak apa-apa” sahutku. Lalu aku berdiri, karena air teh yang terjatuh sudah mulai mengalir ke tempatku. Seorang ibu membuang keluar jendela es batu yang tadi jatuh “Ini ntar cair bikin basah disini” sambil melempar es itu keluar jendela.

Tak lama kemudian ada petugas yang membersihkan genangan air teh tadi. Kutunggu beberapa saat hingga mengering, baru aku duduk lagi. Aku melihat sekitarku, lorong-lorong digerbang restorasi telah penuh orang. Petugas-petugas harus berhati-hati berjalan. Membawa makanan dan minuman, mereka harus berjalan disekitar orang-orang yang dengan cueknya duduk dibawah sepertiku ini.

Selang beberapa saat petugas mulai memeriksa karcis. Satu persatu penumpang mengeluarkan karcisnya, termasuk aku. Seorang bapak terlihat menyodorkan uang 20 ribu. Ibu-ibu yang duduk dekatku sedang membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu didalam. Dan kulihat uang 50 ribu dan ribuan-ribuan kecil lainnya. “Pasti nyari duit 20 ribu” pikirku. Ia berhenti mengaduk-aduk tasnya. Lalu menyerahkan uang 50 ribu itu ke petugas. Petugas itu hanya memberi kembalian 20 ribu. Aku tersenyum, “benar dugaanku”. Mereka kemudian seperti beradu mulut, mungkin ibu itu merasa uang kembaliannya kurang. Entahlah. Tak bisa kudengar pembicaraan mereka.

Ya, seperti itulah teknik “nembak” di kereta. Kita cukup membayar setengah harga. Petugas dan penumpang sama-sama tahu. Harusnya si penumpang di denda karena tidak membawa tiket. Tapi mereka sama-sama tahu “prosedur”-nya dan sama-sama merasa diuntungkan. Penumpang membayar murah walaupun duduk dibawah,si petugas mengantongi 20 ribu rupiah. Yang rugi ?. Tak ada. Itu korupsi atau bukan ya ?.

Aku kemudian duduk lagi. Melanjutkan tidurku yang tertunda.

Aku tiba-tiba terbangun. Leherku terasa pegal, mungkin karena aku tidur menunduk. Aku lihat jam di hpku. Jam 1/2 9. Berarti sejam lagi baru akan sampai di bandung. Aku pijat leherku, meregangkan otot-otot leherku yang tegang dan kaku. Terasa lebih enak setelah dipijat. Kemudian, aku tarikku ranselku, kuletakkan disampingku, lalu aku menyenderkan kepalaku ke tangan yang aku letakkan diatas tasku. Aku lanjutkan lagi tidurku.

Aku tak bisa tidur. Tanganku dan leherku terasa pegal. Jadi aku duduk saja, memandang di sekitarku. Ibu-ibu disebelahku dan pemuda yang celananya basah tadi terlihat berbicara serius. Sepertinya mereka membicarakan tentang bisnis. Ada samar-samar kudengar “barang Jepang”. “Beli di jepang lebih murah”. Tak kuhiraukan. Hanya asyik saja melihat mereka bertukar pikiran. Aku toh tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Seorang penumpang lain sibuk berbicara dengan petugas khusus kereta api.

Rata-rata penumpang sudah bangun dari tidurnya. Ada yang berdiri mengusir pegal, ada yang bersiap-siap untuk turun. Ada yag tetap asyik mengobrol. Seorang petugas khusus kereta api datang. Akhirnya petugas itu berbicara dengan ibu dan pemuda yang ada disebelahku. Aku hanya ikut mendengarkan saja. Si petugas bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Si ibu dan pemuda tadi sibuk bertanya. Tiba-tiba saja rasanya gerbong ini menjadi tempat mengobrol yang asik. Logat-logat dan bahasa sunda lebih banyak dipakai. Mungkin orang bandung banyak yang mudik hari jumat malam seperti ini.

..dan saat kulihat keluar, stasiun Bandung telah tampak. Seperti ribuan penumpang lainnya, ada kelegaan dan kesenangan akhirnya sampai di bandung. Mungkin ini adalah bagian dari rutinitas dan keseharian. Tapi selalu ada kebahagian ketika tiba di bandung.

Aku berjalan keluar dan menelpon temanku. Ternyata ia telah menunggu di depan stasiun.

Senang rasanya kembali ke bandung. Dan aku tahu 5 hari kedepan aku akan menikmati hari-hari indah di bandung, bersama teman, sahabat dan orang-orang yang dekat dihati.

p.s: harusnya ini diposting hari sabtu tgl 13 September 2003. Tapi karena komputer saya di bandung di”perkosa” sama anak2 bbv maka postingan baru dipost hari ini.

22 Kata